Saat itu bulan Maret. Tahun pertamanya di SMA
hampir berakhir. Tadinya Shuya mengira dia tidak akan sanggup menahan
perjalanan panjang pulang pergi ke SMA Rikkyo dari rumahnya di Meguro. Dua jam
setiap hari terbuang di kereta untuk bolak-balik ke Saitama! Tapi banyak
pekerja kantoran dan lain-lain yang melakukannya, ibunya mengingatkan dia. Begitu
pula dengan teman-temannya. Satu jam masing-masing untuk pergi dan pulang tidak
sepantasnya dikeluhkan. Bahkan sekalipun dia mesti berganti kereta sampai empat
kali.
“Coba
baca buku,” kata mereka. “Kamu kan suka baca—manfaatlah kesempatan itu.”
Shuya memang suka baca. Dan ternyata dia suka menulis juga. Kegiatan favoritnya sepulang sekolah adalah Klub Sastra. Anggotanya menghabiskan sebulan untuk mengarang haiku, sebulan untuk cerpen, dua bulan skrip, dan satu semester untuk menulis novel. Untuk novel rasanya berat. Tapi sampai waktu itu semuanya berjalan menyenangkan.