Kisah pendewasaan yang didedikasikan untuk para nenek ini menyoroti
pembicaraan subversif dan kecintaan pada film.
Kepada nenekku, dan semua nenek lain yang tak pernah kita hargai
sepantasnya.
Pada Kamis sore di musim gugur yang cerah itu, antara pukul dua dan tujuh,
terjadi tiga peristiwa tak biasa. Dari pukul tiga sampai lima, aku dan
teman-temanku pergi ke Bioskop Mahtab untuk menonton film Hitchcock, Psycho.
Pada pukul setengah tujuh, Agha Baji mampir ke rumah kami untuk mengunjungi
nenekku. Lima belas menit kemudian, lantai ubin di kamar mandi runtuh dan aku nyaris
jatuh menerobos ke lubang galian di bawahnya. Tampaknya, ketiga peristiwa remeh ini tidak ada hubungannya
dengan satu sama lain. Namun di balik keremehan itu, terdapat sejumlah
keruwetan.
Pada sore hari itu, ada dua jam mata pelajaran bahasa. Kami sedang duduk di ruang kelas, suasananya diliputi konspirasi dan intrik. Kami mau memberontak melawan guru kami. Namun luar biasanya yang memprakarsai pemberontakan kami itu sesungguhnya kepala sekolah. Ia mau mendepak Pak Chabok. Pak Chabok, guru bahasa kami, mestilah pegawai honorer, itulah sebabnya bisa saja memecat dia dengan mudah. Ia mahasiswa berpostur kekar. Wajahnya tirus dan rahangnya menonjol. Ia selalu menggemeretakkan gigi.