Kisah pendewasaan yang didedikasikan untuk para nenek ini menyoroti
pembicaraan subversif dan kecintaan pada film.
Kepada nenekku, dan semua nenek lain yang tak pernah kita hargai
sepantasnya.
Pada Kamis sore di musim gugur yang cerah itu, antara pukul dua dan tujuh,
terjadi tiga peristiwa tak biasa. Dari pukul tiga sampai lima, aku dan
teman-temanku pergi ke Bioskop Mahtab untuk menonton film Hitchcock, Psycho.
Pada pukul setengah tujuh, Agha Baji mampir ke rumah kami untuk mengunjungi
nenekku. Lima belas menit kemudian, lantai ubin di kamar mandi runtuh dan aku nyaris
jatuh menerobos ke lubang galian di bawahnya. Tampaknya, ketiga peristiwa remeh ini tidak ada hubungannya
dengan satu sama lain. Namun di balik keremehan itu, terdapat sejumlah
keruwetan.
Pada sore hari itu, ada dua jam mata pelajaran bahasa. Kami sedang duduk di ruang kelas, suasananya diliputi konspirasi dan intrik. Kami mau memberontak melawan guru kami. Namun luar biasanya yang memprakarsai pemberontakan kami itu sesungguhnya kepala sekolah. Ia mau mendepak Pak Chabok. Pak Chabok, guru bahasa kami, mestilah pegawai honorer, itulah sebabnya bisa saja memecat dia dengan mudah. Ia mahasiswa berpostur kekar. Wajahnya tirus dan rahangnya menonjol. Ia selalu menggemeretakkan gigi.
Ia guru yang pemarah, tetapi adakalanya ia dapat menjadi teramat santai
dan peramah. Memang kami sudah delapan belas tahun, di kelas dua belas, tetapi
tatkala ia merokok di ruang kelas, kami semua tercengang. Yang aneh ia minta
macis kepada anak-anak. Mereka bilang omongannya subversif. Aku tidak
benar-benar merasakan kesan itu. Meskipun memang dia pernah mengutarakan suatu
hal yang tidak terlampau parah. Ketika kami sedang membicarakan tentang Ratu
Inggris dan suaminya, ia bilang bahwa pada akhirnya, hanya dua raja yang akan
tersisa di seluruh dunia: raja di pak kartu, serta Raja atau Ratu Inggris.
Tahmures Yazdani adalah orangnya yang pertama-tama mengangkat soal omongan
subversif ini. Suatu hari, setelah Pak Chabok meninggalkan ruang kelas, ia
mengumpulkan semua anak, matanya memancarkan gairah, dan berkata, “Kalian lihat
belakang kerah bajunya?”
Kami semua memandang balik kepadanya bagaikan zombi.
Ia tersenyum baik hati seakan-akan sedang menghadapi sekelompok idiot dan
berkata, “Ada tanda Front Nasional Ketiga di belakang kerah bajunya!”
Nyatanya kami tidak melihat apa-apa. Sekalipun kami lihat, kami tidak
bakal paham. Tahmures memang berkepala besar dan suka membual. Ia bilang
ayahnya di Kementerian Luar Negeri. Ia selalu mengakhiri karangannya dengan
konsep terkenal “Nasionalisme Positif” sekalipun topik karangannya “Tulislah
Surat kepada Ayahmu dan Jelaskan Mengapa Kamu Gagal”. Pernah aku dan beberapa
anak lain menanyai dia soal Pak Chabok berikut omongan subversifnya. Namun ia
hanya mengangkat alis dan berkata, “Dia pengkhianat.”
Maka kami duduk di ruang kelas dan berbisik-bisik dengan satu sama lain.
Kami tak tahu kenapa Pak Chabok belum muncul juga. Entahkah dia sudah mengendus
akan ada yang tak beres, ataukah ada yang memberi tahu dia mengenai rencana
ini. Nyatanya kami semua merasa malu sudah memasang jebakan keji lagi pengecut
untuk Pak Chabok. Si ketua kelas bersikeras bahwa kepala sekolah ada di balik
rencana ini bahkan yang mendorongnya. Namun tak seorang pun dari kami sudah
teryakinkan soal itu. Rencana-rencana menjengkelkan Tahmures pun terabaikan
sampai ia meninggalkan ruang kelas dengan frustrasi lalu kembali, sembari
terengah-engah, bersama kepala sekolah sendiri. Kepala sekolah memandang marah
kepada kami dan berkata, “Kenapa kalian masih duduk? Bangkit dan pergilah!”
Tertunduk malu, kami mengambili buku-buku kami dan meninggalkan sekolah.
Sebagian anak pulang ke rumah. Sebagian lagi berdiri di sekitar simpang dan
menyalakan rokok. Aku, Alexander, dan Abbas pergi ke Bioskop Mahtab. Filmnya
berjudul Psycho, dibintangi Anthony Perkins, Janet Leigh, Vera Miles,
dan John Gavin. Kami bertiga pembaca majalah bintang film, dan aku penggemar
Hitchcock. Aku lebih jago menghafal daftar adegan ketika Hitchcock muncul dalam
film-filmnya daripada rumus etan metan yang diperpanjang. Aku sudah menonton
hampir semua film Hitchcock yang pernah dipertunjukkan di Iran. Pernah Abbas berhati-hati memperbandingkan
Hitchcock dengan sutradara Samuel Khachikian. Dengan penuh cibiran, aku menasihati dia agar berhenti
mengarang analogi tak berfaedah begitu. Vertigo adalah film terbaik yang
pernah kutonton seumur hidupku, dan sutradara terbaik sudah jelas Hitchcock.
Bioskop Mahtab hampir-hampir terbengkalai. Hanya tiga-empat deretan
terbaik yang terisi. Setelah memohon penuh desakan, kami mendapat izin dari si
penjaga pintu dan duduk di depan. Konon Hitchcock meminta agar pintu bioskop
ditutup ketika filmnya dimulai, tetapi nyatanya tidak. Pada awal film, sejenak
hening dan gelap. Satu-dua orang bersenda gurau, ada juga beberapa yang bersiul. Namun kami bertiga sudah
berada dalam dunia kami sendiri. Seakan-akan kami berada di orbit lain.
Filmnya memukau, sejak awal, ketika berfokus pada jendela di sebuah
bangunan, sampai ke paling ujung, ketika Anthony Perkins duduk di kantor sheriff
dengan selimut tersampir di bahunya, tanpa mengusir lalat di tangannya. Adegan
mandi pancuran—yah, tentu saja yang itu spesial, tetapi yang paling dahsyat
adalah ketika Vera Miles menuruni tangga basemen sendirian, untuk melihat apa
yang sedang terjadi di sana. Kami bertiga mencengkeram lengan kursi. Kami
membungkuk, lalu kembali menarik diri ke kursi. Seakan-akan kami tak mau ikut
turun bersama dia. Vera Miles tak mengacuhkan kami. Ia menuruni tangga, satu
demi satu. Di basemen, ia melihat seorang perempuan duduk di kursi, memunggungi
dia. Ia memanggil perempuan itu. Perempuan itu tidak menyahut. Vera menyentuh
bahu perempuan itu. Kursi berbalik. Musik menjerit. Persis seperti ketika ujung
pisau cukur yang tajam digoreskan ke kaca. Tangan Vera Miles membentur lampu
yang menggantung dari langit-langit akibat kengerian. Cahaya yang terguncang
meliuk membolak-balikkan segalanya, mengaburkan segala garis dan batas. Duduk di kursi itu ialah
kerangka wanita tua. Rambut kelabu diikat ke belakang, dengan belahan tengah yang
lurus. Ada sisa kulit yang kering keriput, rongga mata yang hitam, serta mulut
yang kosong.
Sudah kurang lebih satu jam sejak aku tiba di rumah. Aku tidak ingat
bagaimana aku keluar dari bioskop atau bagaimana aku pulang. Dengan buku Fisika
Mekanika di hadapanku, aku berusaha membaca pelajaran untuk besok. Kata-kata
dari buku itu terus saja keluar fokus, digantikan oleh wajah si wanita tua. Aku
berusaha melenyapkan bayangan itu dengan menggeleng berkali-kali. Aku berdiri;
melihat jendela tetangga. Jendela itu juga keluar fokus, digantikan wajah si
wanita tua …. Aku berjalan beberapa langkah dan memandang bunga-bunga di
karpet. Bunga-bunga itu keluar fokus dan muncullah wajah si wanita tua. Aku
beranjak ke kulkas untuk makan sesuatu; lampunya menyala, dan wajah si wanita
tua menggantikan semua wadah makanan. Gemetar, aku berdiri dekat pemanas dan
memancangkan tatapanku pada nyala apinya yang biru. Nyala api itu menari-nari,
dan tampaklah wajah si wanita tua di antaranya. Aku berusaha menyibukkan diri.
Aku berpindah-pindah tempat tanpa keruan, seperti orang gila. Sayangnya, tak
ada orang lainnya di rumah, kalau tidak, aku bisa mengobrol. Aku menyalakan
radio dan menyetelnya keras-keras. Permainan tar dan kamanche[1]
memenuhi ruangan dan aku pun sedikit tenang. Aku mau mengambil Fisika
Mekanika ketika ada yang mengetuk pintu.
Pintu rumah terbuat dari kayu. Alat pengetuknya berbentuk bulan sabit dari
perunggu. Sejauh yang kuingat, sekarang ini orang tak lagi menggunakan alat
pengetuk pintu. Orang menggunakan bel. Entah kenapa sekonyong-konyong aku
diliputi ketakutan. Aku naik ke puncak tangga dan berhati-hati mendengarkan.
Beberapa detik kemudian, bunyi tok-tok-tok timbul lagi. Pukulannya tak
beraturan—pendek … pendek … panjang. Seakan-akan tangan orang itu lemah, tanpa
tenaga. Aku menuruni tangga lalu menyalakan lampu ruang depan. Bohlamnya cuma
empat puluh watt dan remang-remang. Bertahun-tahun, bohlam itu tempat singgah
yang aman bagi lalat-lalat untuk hinggap dan melakukan urusannya. Bohlam itu
memancarkan lingkaran cahaya kuning kumuh. Aku berdiri di balik pintu dan
bertanya, “Siapa itu?”
Tak seorang pun menyahut. Aku membuka pintu. Aku mengira akan melihat
orang, tetapi tak ada seorang pun. Rangka pintu, yang hitam dan kosong bak
liang lahad, tampaklah di hadapanku. Seketika, jantungku berdegup lebih
kencang. Bulu-bulu di tubuhku berdiri tegak, dan isi perutku bergolak. Aku
mundur beberapa langkah, dan bertanya keras-keras, “Ada orang?”
Perlahan-lahan sebuah kepala memasuki rangka hitam itu dari sebelah kiri.
Rambut kelabu dengan belahan tengah yang lurus. Kulit keriput, mata cekung,
hidung mancung, mulut tanpa gigi, beberapa utas rambut hitam panjang di dagu,
semua ini dibingkai oleh penutup kepala berwarna putih yang dilapisi kerudung
hitam. Akal sehatku mengenali wajah ini, dan mengatakan: “Ini Agha Baji.”
Namun suatu hal lain dalam diriku tak keruan mengatakan: “Ini wanita tua
dari Pyscho tadi.”
Persis seperti Anthony Perkins, yang mendekapkan tangannya ke mulut kala
melihat tubuh Janet Leight, aku menutupi mulut dengan tangan, supaya nyawaku
tidak meloncat keluar dari tubuhku saking ngerinya. Aku tersandung mundur
beberapa langkah hingga menabrak bak cuci. Aku menjerit kencang, dan
mencengkeram tepi bak sekalian dengan pipa saluran airnya. Aku memandang ke bawah,
dan melihat salah satu betisku terbenam ke lubang hitam yang sebesar kira-kira
satu ubin, sementara betisku yang lain tersangkut di tepian ubin yang
bersebelahan dengan itu, yang sudah mau ambrol. Dengan kecepatan yang tak
kira-kira untuk orang seumuran dia, Agha Baji memasuki rumah dan menghampiriku.
Seketika itu, ubin yang bersebelahan itu berserta beberapa lainnya ambrol.
Sekarang, separuh tubuhku sudah masuk lubang, sementara separuh lagi
mengganduli bak. Agha Baji menyadari apa yang terjadi, dan berhenti. Seraya
merengek, aku memohon pertolongannya. Ia mencopot kerudungnya, mengikatkan
salah satu ujungnya ke pegangan kayu di pompa air, lalu melemparkan ujung
satunya ke arahku. Pompa air itu merupakan barang ajaib dari besi cor yang
kokoh. Dulunya, barang itu digunakan untuk memompa air dari tandon bawah tanah
ke tangki atap. Berkat bantuan berupa kerudung itu, aku dapat mengangkat diri
hingga roboh di ruang depan. Agha Baji tidak serta-merta mendekat kepadaku. Ia
wanita tua yang tajam pikirannya dan mestilah sudah paham bahwa aku tadi
ketakutan karena dia.
Ia beranjak ke kaki tangga dan memanggil nenekku. Ia menyeru “hei”
beberapa kali. Ia masih menyebut nenekku “istri kakak”, padahal sudah sekitar
lima puluh tahun kakaknya tiada. Begitu ia memastikan tak seorang pun ada di
rumah, ia duduk di bawah tangga. Ia mengeluarkan kacamata oval berbingkai logam
dari kantong di penutup kepalanya. Setelah menyesuaikan kacamata yang bertali
elastis itu ke belakang kepalanya, ia memandangku dengan perhatian yang
saksama. Walaupun ia telah menyelamatkanku, ia masihlah si wanita tua dari Psycho.
Bau sengit menyebar ke seluruh tempat itu. Antara alkohol dan cuka. Aku
duga bau itu berasal dari lubang di mana aku menggandul tadi. Baunya begitu
tajam sampai aku pusing. Kesal, Agha Baji memandang sekeliling beberapa kali.
Barangkali ia sedang memikirkan solusi untuk keadaanku. Ia mengeluarkan dua
benda pink yang bentuknya seperti sepatu kuda dari kantong lain dalam penutup
kepalanya dan memasukkannya ke dalam mulut. Wajahnya berubah bentuk, ibarat ban
kempis yang seketika terangkat di atas dongkrak. Benda pink itu adalah gigi
palsunya. Ia tidak dapat bicara atau makan tanpa benda itu. Seketika itu juga,
nenekku datang terengah-engah masuk ke dalam rumah, seraya membawa sebuah
buntel dengan kedua belah lengannya. Wajahnya merah, uap naik dari tubuhnya.
Kemungkinan dia baru dari kamar mandi umum. Sebelum pingsan, aku sempat melihat
Agha Baji, yang kini wajahnya menyerupai manusia dan bukan lagi si wanita tua
di Pyscho.
Setengah jam berlalu. Aku sudah di lantai atas dan merasa sedikit membaik.
Nenekku percaya aku pingsan karena syok. Ia duduk di sampingku dan mau
mencekokiku dengan sepotong garam batu. Ia berkata Tuhan mengasihiku sehingga
aku tidak sampai jatuh ke dalam lubang. Aku memasukkan garam itu ke mulutku dan
mengiyakan pendapatnya. Sekarang, ia telah memasukkan ayah dan ibu tetangga
serta ayah dari ayah mereka berikut semua nenek moyang mereka ke alat
penggiling, dan menggilas mereka, mencincang daging dari mereka diiringi segala
cerca dan laknat. Ia memutuskan untuk pergi ke kantor polisi besok pagi sekali
dan mengadu. Tetangga sebelah adalah orang Armenia. Aku masih tak mengerti
kenapa ia mau mengadu kepada polisi. Ia menjelaskan bahwa tetangga tersebut
menggunakan tandon bawah tanahnya sebagai tong raksasa untuk membuat anggur.
Dinding sumurnya, yang merupakan batas antara rumah kami dan tandon air bawah
tanah mereka yang sudah sangat tua, sudah remuk, itu makanya ubin-ubinnya pada
ambrol. Sekarang aku paham dari mana asal bau masam yang entahkah alkohol atau
cuka itu berasal. Nenekku menampar punggung tangannya dan menggigit bibir
saking kesalnya. Ia membayangkan apa jadinya dia jika aku sampai jatuh ke dalam
lubang. Aku merasa kata-katanya itu tidak masuk akal. Apa hubungan antara
robohnya sumur kami dan fakta bahwa tetangga bikin anggur di ruang bawah
tanahnya? Aku berusaha menahan dia agar tidak mendatangi polisi. Kalau ia mulai
bicara soal suci/tidak sucinya anggur dan seterusnya, tak akan ada yang dapat
menghentikannya. Namun Agha Baji merampungkan persoalannya. Pertama, ia
menyarankan kami menuangkan sekarung limau ke dalam sumur untuk membersihkannya
dari anggur. Adapun mengenai si tetangga, ia percaya setiap orang akan
mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri di kehidupan selanjutnya. Lagipula,
ia menambahkan, neraka butuh penyapu jalanan juga! Nenekku pun merelakan
persoalan itu dan menyiapkan peralatan membuat teh. Lalu keduanya duduk
bersisian dan mulai—sebagaimana mereka menyebutnya—bergaul. Aku tidak begitu
mengenal Agha Baji. Aku berjumpa dia hanya beberapa kali setahun. Di keluarga,
konon ia membawa sial. Ada juga yang berpikiran bahwa ia dapat membawa penyakit ain jika dibuat tersinggung. Namanya Gol
Baji Khanum, tetapi semua orang menyebut dia Agha Baji.
Setelah aku membaca beberapa halaman Fisika Mekanika, Nenek
memanggilku. Ia meletakkan secangkir teh yang baru direbus di depanku, lalu
memberi isyarat kepada Agha Baji supaya mendekat. Agha Baji pun duduk di
hadapanku, memandangiku. Jangan-jangan ia tersinggung karena melihat dia telah
membuatku sangat ketakutan. Ia berkata: “Aku belum pernah bertemu Nabi Yunus
dan pausnya, ataupun membangun bendungan Iskandar, tetapi sekalipun suku Ya’juj
dan Ma’juj mengepungku, aku tidak akan sebegitu terguncang karena takut.”
Lantas ia berpaling kepada nenekku dan mengeluh: “Begitu cucumu melihatku,
ia nyaris mati ketakutan!”
Nenekku melontarkan tatapan penuh cela ke arahku, kemudian mengatakan kepada
Agha Baji dengan suara menghibur, “Ia tidak bermaksud kurang ajar—kau harus
memaafkan dia, Agha Baji. Dia anaknya agak delusional.”
Aku berkata: “Itu … itu karena tadi aku baru menonton film.”
Nenek menggoyang-goyangkan tangannya menyangkal perkataanku itu dan berujar:
“Lagi-lagi soal film dan bisoskop?”
Mau bagaimanapun aku berusaha, aku masih belum bisa membuat Nenek belajar
mengucapkan “bioskop” dengan benar. Aku menjelaskan bahwa filmnya sangat
menegangkan dan menakutkan. Kedua wanita itu pun mulai agak penasaran. Dalam
beberapa kalimat, aku menerangkan inti ceritanya kepada mereka. Nenekku tertawa
dan berkata, “Baji sayang, apa telingamu cukup lebar untuk menangkap karangan
ngawur itu?”
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar