Selamat Datang

Blog ini dibuat untuk menjadi tempat berbagi proses belajar saya dalam penulisan karya kreatif sekalian pemahaman bahasa asing, yaitu dengan menerjemahkan. Hasil terjemahan dalam blog ini semata untuk kepentingan belajar dan tidak dikomersialkan. Terima kasih sudah berkunjung.

Pengarang/Penerjemah

Agus Kurniawan (1) Aimee Bender (2) Alan Gratz (1) Alberto Manguel (1) Alejandro Zambra (1) Alex Patterson (1) Alexa Firat (1) Alexandre Najjar (1) Alice Guthrie (1) Alice Walker (1) Aliza Shevrin (1) Ambika Rao (1) Ambrose Bierce (1) Amelia Gray (1) Amy Hempel (1) Anders Widmark (2) Andrea G. Labinger (1) Andrew Driver (7) Ann Beattie (1) Anna Sophie Gross (1) Anne McLean (1) Aoi Matsushima (1) Ariel Urquiza (1) Behnam Dayani (2) Bel Kaufman (1) Brandon Geist (5) Catherine Rose Torres (1) César Aira (1) Charlotte-Arrisoa Rafenomanjato (1) Chiba Mikio (1) Chikako Kobayashi (1) Chimamanda Ngozi Adichie (1) Chris Andrews (1) Christopher Moseley (1) Clark M. Zlotchew (6) Cynthia Ozick (1) David Herbert Lawrence (2) David Karashima (1) Dayeuh (2) Donald A. Yates (1) Dorothy Parker (1) Dorthe Nors (1) Ed Park (1) Elizabeth Harris (1) Estelle Gilson (1) Fernando Sorrentino (15) FiFadila (1) Fiona Barton (1) Francis Marion Crawford (2) Fumiko Enchi (1) Gabriel Gárcia Márquez (1) Giulio Mozzi (1) Grace Paley (1) Gregory Conti (1) Gregory Rabassa (1) Guillermo Fadanelli (1) Guillermo Martínez (1) Hari Kumar Nair (1) Haruki Murakami (24) Hector Hugh Munro (Saki) (2) Helena Maria Viramontes (1) Herbert Ernest Bates (1) Hitomi Yoshio (1) Ian MacDonald (1) Iris Maria Mielonen (1) Isaac Bashevis Singer (1) Italo Calvino (1) Jack Kerouac (2) Jacob dan Wilhelm Grimm (1) James Patterson (1) James Thurber (5) Jay Rubin (13) Jean Rhys (1) John Cheever (1) John Clare (1) John Updike (1) Jonas Karlsson (1) Jonathan Safran Foer (1) Jonathan Wright (1) Jorge Luis Borges (1) Juan José Millás (1) Julia Sherwood (1) K. S. Sivakumaran (1) Kader Abdolah (1) Kalaivaathy Kaleel (1) Karunia Sylviany Sambas (1) Kate Chopin (1) Katherine Mansfield (1) Keiichiro Hirano (5) Kevin Canty (1) Khaled Hosseini (1) Khan Mohammad Sind (1) Kurahashi Yumiko (1) László Krasznahorkai (1) Laura Wyrick (27) Laurie Thompson (1) Laurie Wilson (1) Lawrence Venuti (1) Liliana Heker (1) Lindsey Akashi (27) Liza Dalby (1) Lorrie Moore (5) Louise George Kittaka (1) Lynne E. Riggs (1) Mahmud Marhun (1) Malika Moustadraf (1) Marek Vadas (1) Marina Harss (1) Mark Boyle (30) Mark Sundeen (1) Mark Twain (2) Marshall Karp (1) Martin Aitken (1) Massimo Bontempelli (1) Megan McDowell (1) Megumi Fujino (1) Mehis Heinsaar (1) Michael Emmerich (1) Michele Aynesworth (3) Mieko Kawakami (1) Mihkel Mutt (1) Mildred Hernández (1) Mitsuyo Kakuta (1) Morgan Giles (1) Na’am al-Baz (1) Nahid Mozaffari (2) Naoko Awa (1) Naomi Lindstrom (1) Norman Thomas di Giovanni (1) Novianita (1) O. Henry (1) Ottilie Mulzet (1) Pamela Taylor (1) Paul Murray (54) Paul O'Neill (1) Pere Calders (1) Peter Matthiessen (1) Peter Sherwood (1) Philip Gabriel (11) Polly Barton (1) Ralph McCarthy (3) Ramona Ausubel (1) Ray Bradbury (3) Raymond Carver (2) Raymond Chandler (2) Rhett A. Butler (1) Robert Coover (3) Rokelle Lerner (359) Ruqayyah Kareem (1) Ryu Murakami (3) Ryuichiro Utsumi (1) S. Yumiko Hulvey (1) Sam Garrett (1) Sam Malissa (1) Samantha Schnee (1) Saud Alsanousi (1) Sebastiano Vassalli (1) Selina Hossain (1) Sergey Terentyevich Semyonov (1) Shabnam Nadiya (1) Sherwood Anderson (1) Shirin Nezammafi (1) Shun Medoruma (1) Sophie Lewis (1) Stephen Chbosky (10) Stephen Leacock (1) Susan Wilson (1) Suzumo Sakurai (1) Tatsuhiko Takimoto (27) Thomas C. Meehan (2) Tobias Hecht (1) Tobias Wolff (1) Tomi Astikainen (40) Toni Morisson (1) Toshiya Kamei (2) Ursula K. Le Guin (1) Vina Maria Agustina (2) Virginia Woolf (1) W. H. Hudson (1) Wahyu Wibisana (1) Wajahat Ali (1) Widya Suwarna (1) William Saroyan (1) William Somerset Maugham (1) Yasutaka Tsutsui (7) Yu Miri (1)

Bongkar Arsip

An Evening of Long Goodbyes, Bab 8 (2/2) (Paul Murray, 2003)

“Era baru jahanam,” suara Hoyland melalui sesuap selada kepiting. Ia menatap mulas pada kawanan orang keuangan yang sedang makan sajian sia...

20260120

Hitchcock dan Agha Baji (2/3) (Behnam Dayani, 1973)

Namun sikap Agha Baji seketika berubah. Tatapannya membuatku merasa goyah. Aku merasa ia mau memburaikan isi perutku. Tanpa bangkit dari lantai, ia menggeser kakinya ke arahku seperti belalang lalu duduk di sampingku. Ia memintaku untuk menceritainya keseluruhan film itu. Aku pun membeberkan cerita itu, tidak dari A ke Z, tapi ringkasannya saja. Terpukau, ia memancangkan tatapannya pada mulutku tanpa berkedip. Ketika ceritanya selesai, nenekku memberi kami masing-masing secangkir teh. Ruangan pun anehnya hening. Agha Baji tampak menarik diri sementara tatapannya terpaku pada motif bunga di karpet. Aku tak berani berkata apa pun lagi. Aku takut ia berubah jadi wanita tua di film Psycho itu lagi. Memecah keheningan, nenekku batuk-batuk lalu bertanya diiringi tawa, “Jadi siapa operator film itu?”

Nenek telah mengetahui dari aku bahwa setiap film ada sutradaranya. Namun, seperti “bisoskop”, ia mengacaukan kata ini juga, dan selalu menyebutnya “operator” alih-alih sutradara. Sebelum aku menjawab Nenek, aku melirik Agha Baji, dan bibirnya bergetar. Ia menangis diam-diam. Bingung, aku memandang nenekku meminta penjelasan. Ia memberikan isyarat dengan alisnya, menyuruhku keluar ruangan. Aku pun bangkit dan kembali mempelajari Fisika Mekanika.

Satu jam berlalu. Sudah waktunya makan malam. Nenekku mau menahan Agha Baji agar ikut makan malam di sini. Aku mendengar mereka di lantai atas berselisih soal itu. Akhirnya, Agha Baji menuruni tangga seraya mengatakan bahwa ia mau membuat halvah[1] untuk ke kuburan besok memperingati yang sudah meninggal. Selagi kami berpamitan, aku berusaha menghibur dia mengenai kejadian tak menyenangkan sewaktu kedatangannya tadi. Aku mencetuskan ungkapan-ungkapan istimewa yang aku pelajari dari orang dewasa: “Kami merasa terhormat dengan kehadiranmu.” “Kunjunganmu bernilai bagi kami, lebih bernilai daripada penglihatan kami sendiri.” “Kami merasa terberkati telah melayanimu.” “Silakan mampir lagi.”

Agha Baji menungguku menyelesaikan racauan itu. Lantas ia berkata, “Maukah kamu mengantar Agha Baji melihat pertunjukan itu kapan-kapan?”

Aku tak paham yang ia katakan itu. Aku khawatir lagi-lagi aku menyinggung dia ketika dia mau pergi. Namun yang sesungguhnya ia maksudkan adalah yang paling sederhana dari segala skenario yang terpikirkan olehku. Ia mau aku mengantar dia ke bioskop untuk menonton Psycho. Aku tak dapat memercayainya. Supaya tidak terkesan kurang ajar, aku pun memberi dia jawaban netral, aku katakan: “Kalau Agha Baji berkenan.”

Ia menganggukkan kepalanya, lalu menghilang dalam kegelapan.

Ketika aku memberi tahu nenekku mengenai itu, ia tidak begitu terkejut. Ia bilang: “Jangan menilai Agha Baji dari penampilannya, biarpun sekarang dia terlihat seperti marshmallow. Dahulu kala, bumi gemetar di bawah kakinya!”

Aku menjadi penasaran, dan menanyakan tentang dia lebih lanjut. Setelah makan malam, Nenek memberitahuku kisah hidup Agha Baji.

Malam hari, seraya berbaring di kasurku, wanita tua dari film Psycho itu hampir saja menyeruduk benakku lagi. Aku memikirkan Agha Baji untuk mengalihkan diri. Kehidupannya lebih menyerupai film ketimbang kenyataan.

Kala ia berusia lima belas tahun, Gubernur Karbala melamarnya. (Nantinya baru aku ketahui bahwa ini terjadi sewaktu Irak masih bagian dari Kerajaan Ottoman). Tak seorang pun tahu dari mana sang Pasha orang Turki yang menguasai Karbala itu mendengar kisah tentang kecantikannya: tentang rambutnya yang panjang mengikal bak bunga sulam di permadani dinding, yang mencapai lekuk pinggangnya; dahi semulus pualam; mata cokelat serupa mata kijang; sepasang alis berbentuk busur; hidung bagai sebutir chickpea[2]; bibir yang membelah kala tersenyum seperti kulit pistachio; dan lesung di dagunya—jurang bagi kekasih yang hendak terjun. Sekeras mungkin berusaha, aku tak dapat membayangkan wajah Agha Baji bersesuaian dengan roman begitu. Yang paling janggal adalah dagunya sekarang, penuh galur dan keriput yang ditumbuhi helaian rambut panjang; sama sekali tidak menyerupai lesung yang indah.

Sang Pasha orang Turki itu telah menawarkan banyak hadiah untuk melamarnya, salah satunya berupa kuda putih dewasa seukuran poni yang ladamnya terbuat dari emas. Nona Baji melakukan ijab kabul tanpa kehadiran mempelai pria. Dengan berkendara di antara dua belas unta yang mengangkut maharnya, ditemani prajurit-prajurit yang mengenakan fez, ia berangkat ke perbatasan. (Ketika itu di ambang Perang Dunia Pertama. Akhir dari dinasti Qajar di Iran serta pasha-pasha Usmani di Turki telah dekat, dan segalanya dalam huru-hara.)

Di jalan, kabar sampai kepada mereka bahwa pasha tua yang sial itu telah meninggal dunia. Nona Baji yang kala itu masih berusia lima belas tahun pun ditinggalkan bersama sejumlah prajurit Arab ber-fez yang bernafsu, hadiah-hadiah dari mendiang gubernur yang malang, beserta dua belas unta bermuatan mas kawin. Malam itu ia menjahit semua koin emas Persia dan Usmani ke lapisan gaunnya, dan pagi-pagi sekali ia melarikan diri kembali ke rumah ayahnya dengan mengendarai kuda berladam emas.

Sepuluh tahun kemudian Nona Baji kembali menjadi pengantin. Kali ini, suaminya adalah pemuka salah satu suku Lorestan, nomad berkulit terbakar matahari, yang tingginya sekitar seratus delapan puluh senti, yang kebrutalan dan ketamakannya mengilhamkan nenekku sampai mengatakan bahwa pria itu dapat “memakan keledai sekalian muatannya, juga mayat berikut kuburannya.” Namanya Ja’far Gholi, tetapi ia dipanggil dengan “Jeff”. (Apakah ini kenang-kenangan dari kawan-kawan orang Inggris, ataukah atas pilihan sendiri? Tak ada yang tahu. Ini era Pahlavi, masa pendudukan paksa suku-suku dan para nomad. Rencananya adalah supaya mereka membayar lebih atas segala kerusakan yang mereka buat dalam beberapa ratus tahun terahir.)

Jeff pria berlengan satu. Ketika lengan kanannya kena peluru dalam suatu peperangan, ia memotongnya sendiri dengan pedang Cossack. Ia lelaki yang getir dengan semangat yang patah, yang menghadapi segala kekecewaan hidup dengan dua cara: mengisap opium dan menyiksa istri. Dalam kedua hal ini, seleranya khas dan menjelimet.

Pada malam pernikahan, ia menetapkan siapa yang jadi bos. Ia mengembalikan si mempelai belia berikut gaun putih serta rambut yang tersingkap ke rumah ayahnya. Mempelai wanita memegang saputangan tak bernoda dengan satu tangan, dan lampu “tikus” dengan tangan yang lain. (Menurut nenekku, lampu “tikus” itu kelihatannya menyerupai teko dengan sumbu yang keluar dari ceratnya. Sumbu itu terendam dan membakar minyak yang ada di dalamnya). Sebelum matahari naik, Nona Baji telah berubah menjadi Baji “Lampu Tikus”. Ayahnya kena serangan jantung akibat syok, dan di ranjang pesakitannya menerima tuntutan dan persyaratan dari menantu prianya yang penipu lagi tamak. Ia membayar warisan putrinya secara penuh di muka, bersama enam kilo safron superior dari wilayah Ghaenat. Matahari baru saja menggapai dinding ketika Baji “Lampu Tikus” berubah menjadi “Baji Safron” dan demikianlah mereka memulai kehidupan pernikahan.

Jeff orang yang ringan tangan (sebagaimana mestinya, karena ia hanya memiliki satu tangan, badannya tidak seimbang), karena ia menanggapi setiap keburukan dengan menjotos mulut, menempeleng, menampar, atau memukul. Nenekku bilang laki-laki yang mencandu opium hanya punya dua cara untuk mencegah istrinya supaya tidak kabur. Entahkah ia mesti menjadi ayah dari banyak sekali anak sehingga istrinya tak akan sempat menggaruk kepala sekalipun, apalagi tergoda untuk melakukan hal lain, atau di tengah rasa hangat dan gelenyar dari puncak opium, manakala pipa siap dan si lelaki merasa enak, si istri berdalih sakit telinga agar diberi satu tiupan, sehingga hari berikutnya, si istri mengarang alasan sakit gigi agar diberi satu tiupan lagi, dan seterusnya dan selanjutnya, hingga hari ketika mereka berdua duduk berhadap-hadapan di depan tungku opium sambil menggaruki hidung, dan menceracau dengan suara parau oleh opium. Akan tetapi, Nyonya Baji tak ada bakat untuk salah satu dari kedua skenario ini. Ia melahirkan tujuh anak, enam di antaranya meninggal, sedangkan opium, aduh, tidak cocok dengan kondisi tubuhnya. Namun sebagaimana ia datang ke rumah suaminya bergaun putih, ia hanya boleh pergi mengenakan kafan putih. Maka ia menderita dan menetap.

Pada malam-malam terang bulan, Nyonya Baji menggendong bayinya di punggung dan berangkat bersama Jeff ke Gunung Sofeh, tebing berbatu yang menjulang di atas Takht-e Poulad, yang adalah perkuburan di Isfahan. Diawasi suaminya, Nyonya Baji menggosokkan opium dalam pancaran bulan purnama. Pada masa itu, orang biasanya menggosok opium entahkah di sekitar api atau di bawah matahari. Namun Jeff si pencandu opium meyakini bahwa opium yang digosok dalam pancaran bulan purnama menimbulkan rasa mabuk yang luar biasa. Bulan purnama datang dan pergi. Timbul bulan baru dan bulan tua. Bulan sabit terkembang jadi bulan purnama, bulan purnama jadi bulan sabit … sampai satu malam Jeff memangkas perjalanan dan mati di sana tepat di bawah sinar rembulan. Paginya, sekumpulan pelayat menyadari ada yang aneh. Tangan Jeff yang utuh—tangan yang digunakannya untuk menampar istri—telah dipotong di pergelangannya.

Pertanyaan, pengusutan, dan penyelidikan tak ada hasil. Keluarga dan kerabat mengajukan protes yang hangat-hangat kuku, dan akhirnya, jasad itu dikuburkan. Lagi pula, apakah pentingnya apabila seorang lelaki bertangan satu kehilangan satu tangan lagi ketika ia mati, terlebih ia tak pernah menggunakan tangannya yang satu itu untuk hal baik?

Yang tersisa bersama Nyonya Baji hanya beberapa panci dan wajan, beberapa kilim (permadani) yang tak berharga, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun, serta keharusan untuk menjaga penampilan kendati dalam keadaan tak berdaya.

Beberapa minggu setelah itu, Nyonya Baji menjual perabotan beserta rumahnya, dan menghilang bersama putrinya. Lima atau enam tahun berlalu. Ada kabar bahwa Nyonya Baji telah memiliki rumah kecil yang indah dan tinggal di Tehran. Agaknya ia cukup cerdas karena diam-diam telah menyimpan beberapa koin Ottoman di kelim gaunnya. Putrinya tumbuh dewasa. Nyonya Baji mampu memberi putrinya pesta pernikahan yang terhormat dan mas kawin untuk dibawa serta. Gadis itu hamil, tetapi meninggal ketika melahirkan. Tak mau cucunya dibesarkan oleh ibu tiri, Nyonya Baji membuat kesepakatan dengan menantunya. Ia mengambil bayi itu, merawatnya bertahun-tahun, membesarkannya.

Sekarang karena ia sudah lama sepuh, ia mendapat panggilan kehormatan Agha Baji.

Aku masih belum bisa tidur. Sekeras mungkin aku berusaha, aku tak bisa mengerti kenapa Agha Baji mau menonton Psycho. Mungkin saja itu cuma tingkah khas wanita tua dan akan terlupa besok. Aku tidak lagi takut dengan wanita tua di Psycho. Aku memutar ulang adegan di basemen itu dalam benakku dan tertidur.

Beberapa malam kemudian, ketika aku tiba di rumah, aku berjumpa cucu Agha Baji. Cucu itu dinamainya Siavosh[3]. (Cobaan manakah yang berhasil dimenangkannya? Api manakah yang diatasinya? Barangkali hikayat Siavosh mencetuskan kisah kesengsaraan Agha Baji sendiri.) Siavosh adalah mahasiswa kedokteran dan sedang magang di rumah sakit. Ia pendiam, pemuda tambun berambut lurus dengan cara bicara yang kedengarannya lebih seperti mendengung. Setelah mula-mula mengusapkan kedua belah tangannya dengan satu sama lain dalam hening, penasaran ia menanyakan film yang aku telah berjanji untuk membawa neneknya menonton. Aku jadi gugup lagi. Senyatanya aku malu membawa Agha Baji ke bioskop. Mungkin karena teman-temanku pada pamer dengan mengatakan mereka sudah ke bioskop bareng “pacar”, sementara aku harus pergi bersama Agha Baji. Siavosh pun tertawa ketika aku menceritakan kepadanya mengenai peristiwa hari itu dengan film Psycho berikut cobaan yang menyerta dengan lantai kamar mandi. Katanya, “Kamu yang memulai, kamu yang harus bereskan! Benar deh, itu gara-gara kamu sendiri!”

Ia menjangkau ke dalam kantongnya dan memberiku 20 toman[4]. Aku mau menyerahkan uang itu kepada Siavosh supaya dia saja yang membawa Agha Baji, tetapi aku merasa terlalu malu melakukannya. Mungkin ia teramat sibuk, kalau tidak, ia bakal mengatasinya sendiri. Nenekku mendorongku agar melakukannya. Aku menghibur diri dengan menganggap ini amal baik, sekalipun aku ragu bakal ada malaikat yang mencatatnya untuk surga. Siavosh minum secangkir teh, lalu kami membuat rencana untuk besok. Malu-malu ia mengucapkan terima kasih kepadaku lalu pergi.

Keesokan paginya, aku pergi menunaikan janji. Sekarang trimester pertama dan pelajaran-pelajaran di kelas belum begitu berat. Agha Baji sudah siap dan duduk menunggu. Ia mengenakan gaun pesta. Kerudung berwarna perak dengan polkadot putih kecil serta bot plastik hitam sampai betis yang dikencangkan dengan ritslesting alih-alih renda. Kami naik taksi, dan turun di persimpangan Shah. Aku masih merasa malu. Namun aku menyadari bahwa tak seorang pun memperhatikan kami. Kami tidak terlihat luar biasa. Aku menggandeng lengannya dan perlahan-lahan kami menyusuri jalan.

Ketika kami sampai di bioskop ia jadi bersemangat, seakan-akan sampai waktu ini ia berjalan sambil tidur, dan sekarang ia mendadak terbangun. Ia memperhatikan segala-galanya dengan sangat saksama. Ia mengamati setiap gerakanku. Seakan-akan ia sedang menghimpun kenangan. Atau menyingkapkan suatu rahasia atau memecahkan sebuah kode. Aku membeli tiket dan kami memasuki bioskop. Ia berdiri di tengah-tengah lobi dan menatap ke sekeliling seperti yang terbengong-bengong. Untuk menyadarkannya, aku mengisyaratkan untuk ke stan makanan ringan dan menanyakan apakah ia mau makan sesuatu? Ia menggeleng. Cerobohnya aku menanyakan apakah ia mau ke kamar kecil? Segera saja aku menyesali itu. Kurasa itu pertanyaan yang menyinggung. Lagi pula, naik turun tangga untuk ke kamar kecil di Bioskop Mahtab saja menumbangkanku, apalagi Agha Baji.

Untunglah bioskopnya tidak sedang ramai dan setiap orang asyik sendiri-sendiri. Agha Baji kaget dengan bunyi lonceng yang tiga atau empat kali beberapa menit sebelum kami duduk. Mereka membuka pintu teater dan aku bangkit. Ia melontarkan tatapan bertanya ke arahku. Aku menggaet lengannya, dan menuntunnya ke pintu teater. Kami menanyai penjaga pintu apakah kami boleh duduk di depan. Ia memandang kami berdua dengan melit, tetapi berkata tidak apa-apa. Ketika kami masuk, Agha Baji menegang. Tegak dengan mulut melongo, ia memandangi semua bangku kosong. Bunyi lonceng beberapa kali lagi kembali menggerakkannya. Kami beranjak maju lalu duduk, tujuh baris dari layar. Aku mencuri pandang ke arahnya. Ia duduk di bangkunya dengan menyilangkan kaki, seraya menyesuaikan kerudungnya. Lampu-lampu padam, dan selama sekitar satu menit, segalanya diselimuti kegelapan dan kesunyian. Beberapa saat kemudian, sorot senter pemandu jalan menimpa kami. Barangkali ia mengira kami mau aneh-aneh dan hendak menangkap basah. Seketika Agha Baji memalingkan wajahnya ke arah cahaya itu, si pemandu jalan langsung mematikan senternya. Lega, aku menyandar ke belakang dan menunggu film dimulai. Aku yakin aku tidak akan ketakutan dengan akhirannya. Agha Baji ada di sisiku.

Selama durasi film, ia tidak bersuara sama sekali. Tidak ada batuk ataupun bersin, atau kuap, atau desah, erang, gerak. Tidak ada. Duduk membungkuk, ia menatap layar bagaikan patung. Seusai adegan di pancuran, aku memandangnya. Ia masih tak bergerak. Aku menduga ia tertidur. Aku membungkuk sedikit ke depan untuk melihatnya. Ia berpaling kepadaku sambil memberengut. Malu, aku kembali menyandar dan terbenam ke dalam film lagi. Aku telah memutuskan untuk mengamati dia selama rangkaian adegan di basemen tapi aku begitu terpaku oleh film itu sehingga aku lupa. Menjelang akhir film di bagian Anthony Perkins dibawa ke kantor polisi, berhati-hati aku melirik kepadanya. Bedanya hanyalah kali ini ia mencengkam bangku di depannya dengan kedua tangan.


(bersambung)



[1] Sejenis penganan manis asal Timur Tengah.

[2] Sejenis kacang yang mentahnya berbentuk sedikit lonjong berwarna hijau.

[3] Siyâvash, tokoh dalam epos Shahnameh karya Ferdowsi (940 – 1019/25).

[4] Mata uang Iran.

Tidak ada komentar: