Namun sikap Agha Baji seketika berubah. Tatapannya membuatku merasa goyah.
Aku merasa ia mau memburaikan isi perutku. Tanpa bangkit dari lantai, ia
menggeser kakinya ke arahku seperti belalang lalu duduk di sampingku. Ia memintaku untuk
menceritainya keseluruhan film itu. Aku pun membeberkan cerita itu, tidak dari
A ke Z, tapi ringkasannya saja. Terpukau, ia memancangkan tatapannya pada mulutku
tanpa berkedip. Ketika ceritanya selesai, nenekku memberi kami masing-masing
secangkir teh. Ruangan pun anehnya hening. Agha Baji tampak menarik diri
sementara tatapannya terpaku pada motif bunga di karpet. Aku tak berani berkata
apa pun lagi. Aku takut ia berubah jadi wanita tua di film Psycho itu
lagi. Memecah keheningan, nenekku batuk-batuk lalu bertanya diiringi tawa,
“Jadi siapa operator film itu?”
Nenek telah mengetahui dari aku bahwa setiap film ada sutradaranya. Namun, seperti “bisoskop”, ia mengacaukan kata ini juga, dan selalu menyebutnya “operator” alih-alih sutradara. Sebelum aku menjawab Nenek, aku melirik Agha Baji, dan bibirnya bergetar. Ia menangis diam-diam. Bingung, aku memandang nenekku meminta penjelasan. Ia memberikan isyarat dengan alisnya, menyuruhku keluar ruangan. Aku pun bangkit dan kembali mempelajari Fisika Mekanika.
Satu jam berlalu. Sudah waktunya makan malam. Nenekku mau menahan Agha
Baji agar ikut makan malam di sini. Aku mendengar mereka di lantai atas
berselisih soal itu. Akhirnya, Agha Baji menuruni tangga seraya mengatakan
bahwa ia mau membuat halvah[1] untuk ke kuburan besok memperingati yang sudah
meninggal. Selagi kami berpamitan, aku berusaha menghibur dia mengenai kejadian
tak menyenangkan sewaktu kedatangannya tadi. Aku mencetuskan ungkapan-ungkapan
istimewa yang aku pelajari dari orang dewasa: “Kami merasa terhormat dengan
kehadiranmu.” “Kunjunganmu bernilai bagi kami, lebih bernilai daripada
penglihatan kami sendiri.” “Kami merasa terberkati telah melayanimu.” “Silakan
mampir lagi.”
Agha Baji menungguku menyelesaikan racauan itu. Lantas ia berkata, “Maukah
kamu mengantar Agha Baji
melihat pertunjukan itu kapan-kapan?”
Aku tak paham yang ia katakan itu. Aku khawatir lagi-lagi aku menyinggung
dia ketika dia mau pergi. Namun yang sesungguhnya ia maksudkan adalah yang
paling sederhana dari segala skenario yang terpikirkan olehku. Ia mau aku
mengantar dia ke bioskop untuk menonton Psycho. Aku tak dapat memercayainya.
Supaya tidak terkesan kurang ajar, aku pun memberi dia jawaban netral, aku
katakan: “Kalau Agha Baji berkenan.”
Ia menganggukkan kepalanya, lalu menghilang dalam kegelapan.
Ketika aku memberi tahu nenekku mengenai itu, ia tidak begitu terkejut. Ia
bilang: “Jangan menilai Agha Baji dari penampilannya, biarpun sekarang dia
terlihat seperti marshmallow. Dahulu kala, bumi gemetar di bawah
kakinya!”
Aku menjadi penasaran, dan menanyakan tentang dia lebih lanjut. Setelah
makan malam, Nenek memberitahuku kisah hidup Agha Baji.
Malam hari, seraya berbaring di kasurku, wanita tua dari film Psycho
itu hampir saja menyeruduk benakku lagi. Aku memikirkan Agha Baji untuk
mengalihkan diri. Kehidupannya lebih menyerupai film ketimbang kenyataan.
Kala ia berusia lima belas tahun, Gubernur Karbala melamarnya. (Nantinya
baru aku ketahui bahwa ini terjadi sewaktu Irak masih bagian dari Kerajaan
Ottoman). Tak seorang pun tahu dari mana sang Pasha orang Turki yang
menguasai Karbala itu mendengar kisah tentang kecantikannya: tentang rambutnya
yang panjang mengikal bak bunga sulam di permadani dinding, yang mencapai lekuk
pinggangnya; dahi semulus pualam; mata cokelat serupa mata kijang; sepasang
alis berbentuk busur; hidung bagai sebutir chickpea[2];
bibir yang membelah kala tersenyum seperti kulit pistachio; dan lesung
di dagunya—jurang bagi kekasih yang hendak terjun. Sekeras mungkin berusaha,
aku tak dapat membayangkan wajah Agha Baji bersesuaian dengan roman begitu.
Yang paling janggal adalah dagunya sekarang, penuh galur dan keriput yang
ditumbuhi helaian rambut panjang; sama sekali tidak menyerupai lesung yang
indah.
Sang Pasha orang Turki itu telah menawarkan banyak hadiah untuk
melamarnya, salah satunya berupa kuda putih dewasa seukuran poni yang ladamnya
terbuat dari emas. Nona Baji melakukan ijab kabul tanpa kehadiran mempelai
pria. Dengan berkendara di antara dua belas unta yang mengangkut maharnya,
ditemani prajurit-prajurit yang mengenakan fez, ia berangkat ke
perbatasan. (Ketika itu di ambang Perang Dunia Pertama. Akhir dari dinasti
Qajar di Iran serta pasha-pasha Usmani di Turki telah dekat, dan
segalanya dalam huru-hara.)
Di jalan, kabar sampai kepada mereka bahwa pasha tua yang sial itu telah meninggal dunia. Nona Baji
yang kala itu masih berusia lima belas tahun pun ditinggalkan bersama sejumlah
prajurit Arab ber-fez yang bernafsu, hadiah-hadiah dari mendiang
gubernur yang malang, beserta dua belas unta bermuatan mas kawin. Malam itu ia
menjahit semua koin emas Persia dan Usmani ke lapisan gaunnya, dan pagi-pagi
sekali ia melarikan diri kembali ke rumah ayahnya dengan mengendarai kuda
berladam emas.
Sepuluh tahun kemudian Nona Baji kembali menjadi pengantin. Kali ini,
suaminya adalah pemuka salah satu suku Lorestan, nomad berkulit terbakar
matahari, yang tingginya sekitar seratus delapan puluh senti, yang kebrutalan
dan ketamakannya mengilhamkan nenekku sampai mengatakan bahwa pria itu dapat
“memakan keledai sekalian muatannya, juga mayat berikut kuburannya.” Namanya
Ja’far Gholi, tetapi ia dipanggil dengan “Jeff”. (Apakah ini kenang-kenangan
dari kawan-kawan orang Inggris, ataukah atas pilihan sendiri? Tak ada yang
tahu. Ini era Pahlavi, masa pendudukan paksa suku-suku dan para nomad.
Rencananya adalah supaya mereka membayar lebih atas segala kerusakan yang
mereka buat dalam beberapa ratus tahun terahir.)
Jeff pria berlengan satu. Ketika lengan kanannya kena peluru dalam suatu
peperangan, ia memotongnya sendiri dengan pedang Cossack. Ia lelaki yang getir
dengan semangat yang patah, yang menghadapi segala kekecewaan hidup dengan dua
cara: mengisap opium dan menyiksa istri. Dalam kedua hal ini, seleranya khas
dan menjelimet.
Pada malam pernikahan, ia menetapkan siapa yang jadi bos. Ia mengembalikan
si mempelai belia berikut gaun putih serta rambut yang tersingkap ke rumah
ayahnya. Mempelai wanita memegang saputangan tak bernoda dengan satu tangan,
dan lampu “tikus” dengan tangan yang lain. (Menurut nenekku, lampu “tikus” itu
kelihatannya menyerupai teko dengan sumbu yang keluar dari ceratnya. Sumbu itu
terendam dan membakar minyak yang ada di dalamnya). Sebelum matahari naik, Nona
Baji telah berubah menjadi Baji “Lampu Tikus”. Ayahnya kena serangan jantung
akibat syok, dan di ranjang pesakitannya menerima tuntutan dan persyaratan dari
menantu prianya yang penipu lagi tamak. Ia membayar warisan putrinya secara
penuh di muka, bersama enam kilo safron superior dari wilayah Ghaenat. Matahari
baru saja menggapai dinding ketika Baji “Lampu Tikus” berubah menjadi “Baji
Safron” dan demikianlah mereka memulai kehidupan pernikahan.
Jeff orang yang ringan tangan (sebagaimana mestinya, karena ia hanya
memiliki satu tangan, badannya tidak seimbang), karena ia menanggapi setiap
keburukan dengan menjotos mulut, menempeleng, menampar, atau memukul. Nenekku
bilang laki-laki yang mencandu opium hanya punya dua cara untuk mencegah
istrinya supaya tidak kabur. Entahkah ia mesti menjadi ayah dari banyak sekali
anak sehingga istrinya tak akan sempat menggaruk kepala sekalipun, apalagi
tergoda untuk melakukan hal lain, atau di tengah rasa hangat dan gelenyar dari
puncak opium, manakala pipa siap dan si lelaki merasa enak, si istri berdalih
sakit telinga agar diberi satu tiupan, sehingga hari berikutnya, si istri
mengarang alasan sakit gigi agar diberi satu tiupan lagi, dan seterusnya dan
selanjutnya, hingga hari ketika mereka berdua duduk berhadap-hadapan di depan
tungku opium sambil menggaruki hidung, dan menceracau dengan suara parau oleh
opium. Akan tetapi, Nyonya Baji tak ada bakat untuk salah satu dari kedua
skenario ini. Ia melahirkan tujuh anak, enam di antaranya meninggal, sedangkan
opium, aduh, tidak cocok dengan kondisi tubuhnya. Namun sebagaimana ia datang
ke rumah suaminya bergaun putih, ia hanya boleh pergi mengenakan kafan putih.
Maka ia menderita dan menetap.
Pada malam-malam terang bulan, Nyonya Baji menggendong bayinya di punggung
dan berangkat bersama Jeff ke Gunung Sofeh, tebing berbatu yang menjulang di
atas Takht-e Poulad, yang adalah perkuburan di Isfahan. Diawasi suaminya,
Nyonya Baji menggosokkan opium dalam pancaran bulan purnama. Pada masa itu,
orang biasanya menggosok opium entahkah di sekitar api atau di bawah matahari.
Namun Jeff si pencandu opium meyakini bahwa opium yang digosok dalam pancaran
bulan purnama menimbulkan rasa mabuk yang luar biasa. Bulan purnama datang dan
pergi. Timbul bulan baru dan bulan tua. Bulan sabit terkembang jadi bulan
purnama, bulan purnama jadi bulan sabit … sampai satu malam Jeff memangkas perjalanan
dan mati di sana tepat di bawah sinar rembulan. Paginya, sekumpulan pelayat
menyadari ada yang aneh. Tangan Jeff yang utuh—tangan yang digunakannya untuk
menampar istri—telah dipotong di pergelangannya.
Pertanyaan, pengusutan, dan penyelidikan tak ada hasil. Keluarga dan
kerabat mengajukan protes yang hangat-hangat kuku, dan akhirnya, jasad itu
dikuburkan. Lagi pula, apakah pentingnya
apabila seorang lelaki bertangan satu kehilangan satu tangan lagi ketika ia
mati, terlebih ia tak pernah menggunakan tangannya yang satu itu untuk hal
baik?
Yang tersisa bersama Nyonya Baji hanya beberapa panci dan wajan, beberapa kilim
(permadani) yang tak berharga, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun,
serta keharusan untuk menjaga penampilan kendati dalam keadaan tak berdaya.
Beberapa minggu setelah itu, Nyonya Baji menjual perabotan beserta
rumahnya, dan menghilang bersama putrinya. Lima atau enam tahun berlalu. Ada kabar
bahwa Nyonya Baji telah memiliki rumah kecil yang indah dan tinggal di Tehran.
Agaknya ia cukup cerdas karena diam-diam telah menyimpan beberapa koin Ottoman
di kelim gaunnya. Putrinya tumbuh dewasa. Nyonya
Baji mampu memberi putrinya pesta pernikahan yang terhormat dan mas kawin untuk
dibawa serta. Gadis itu hamil, tetapi meninggal ketika melahirkan. Tak mau
cucunya dibesarkan oleh ibu tiri, Nyonya Baji membuat kesepakatan dengan
menantunya. Ia mengambil bayi itu, merawatnya bertahun-tahun, membesarkannya.
Sekarang karena ia sudah lama sepuh, ia mendapat panggilan kehormatan Agha
Baji.
Aku masih belum bisa tidur. Sekeras mungkin aku berusaha, aku tak bisa
mengerti kenapa Agha Baji mau menonton Psycho. Mungkin saja itu cuma
tingkah khas wanita tua dan akan terlupa besok. Aku tidak lagi takut dengan
wanita tua di Psycho. Aku memutar ulang adegan di basemen itu dalam benakku dan tertidur.
Beberapa malam kemudian, ketika aku tiba di rumah, aku berjumpa cucu Agha
Baji. Cucu itu dinamainya Siavosh[3].
(Cobaan manakah yang berhasil dimenangkannya? Api manakah yang diatasinya?
Barangkali hikayat Siavosh mencetuskan kisah kesengsaraan Agha Baji sendiri.)
Siavosh adalah mahasiswa kedokteran dan sedang magang di rumah sakit. Ia
pendiam, pemuda tambun berambut lurus dengan cara bicara yang kedengarannya
lebih seperti mendengung. Setelah mula-mula mengusapkan kedua belah tangannya
dengan satu sama lain dalam hening, penasaran ia menanyakan film yang aku telah
berjanji untuk membawa neneknya menonton. Aku jadi gugup lagi. Senyatanya aku
malu membawa Agha Baji ke bioskop. Mungkin karena teman-temanku pada pamer
dengan mengatakan mereka sudah ke bioskop bareng “pacar”, sementara aku harus
pergi bersama Agha Baji. Siavosh pun tertawa ketika aku menceritakan kepadanya
mengenai peristiwa hari itu dengan film Psycho berikut cobaan yang
menyerta dengan lantai kamar mandi. Katanya, “Kamu yang memulai, kamu yang
harus bereskan! Benar deh, itu gara-gara kamu sendiri!”
Ia menjangkau ke dalam kantongnya dan memberiku 20 toman[4].
Aku mau menyerahkan uang itu kepada Siavosh supaya dia saja yang membawa Agha
Baji, tetapi aku merasa terlalu malu melakukannya. Mungkin ia teramat sibuk,
kalau tidak, ia bakal mengatasinya sendiri. Nenekku mendorongku agar
melakukannya. Aku menghibur diri dengan menganggap ini amal baik, sekalipun aku
ragu bakal ada malaikat yang mencatatnya untuk surga. Siavosh minum secangkir
teh, lalu kami membuat rencana untuk besok. Malu-malu ia mengucapkan terima
kasih kepadaku lalu pergi.
Keesokan paginya, aku pergi menunaikan janji. Sekarang trimester pertama
dan pelajaran-pelajaran di kelas belum begitu berat. Agha Baji sudah siap dan
duduk menunggu. Ia mengenakan gaun pesta. Kerudung berwarna perak dengan
polkadot putih kecil serta bot plastik hitam sampai betis yang dikencangkan
dengan ritslesting alih-alih renda. Kami naik taksi, dan turun di persimpangan
Shah. Aku masih merasa malu. Namun aku menyadari bahwa tak seorang pun
memperhatikan kami. Kami tidak terlihat luar biasa. Aku menggandeng lengannya
dan perlahan-lahan kami menyusuri jalan.
Ketika kami sampai di bioskop ia jadi bersemangat, seakan-akan sampai
waktu ini ia berjalan sambil tidur, dan sekarang ia mendadak terbangun. Ia
memperhatikan segala-galanya dengan sangat saksama. Ia mengamati setiap
gerakanku. Seakan-akan ia sedang menghimpun kenangan. Atau menyingkapkan suatu
rahasia atau memecahkan sebuah kode. Aku membeli tiket dan kami memasuki
bioskop. Ia berdiri di tengah-tengah lobi dan menatap ke sekeliling seperti
yang terbengong-bengong. Untuk menyadarkannya, aku mengisyaratkan untuk ke stan
makanan ringan dan menanyakan apakah ia mau makan sesuatu? Ia menggeleng.
Cerobohnya aku menanyakan apakah ia mau ke kamar kecil? Segera saja aku
menyesali itu. Kurasa itu pertanyaan yang menyinggung. Lagi pula, naik turun
tangga untuk ke kamar kecil di Bioskop Mahtab saja menumbangkanku, apalagi Agha
Baji.
Untunglah bioskopnya tidak sedang ramai dan setiap orang asyik
sendiri-sendiri. Agha Baji kaget dengan bunyi lonceng yang tiga atau empat kali
beberapa menit sebelum kami duduk. Mereka membuka pintu teater dan aku bangkit.
Ia melontarkan tatapan bertanya ke arahku. Aku menggaet lengannya, dan
menuntunnya ke pintu teater. Kami menanyai penjaga pintu apakah kami boleh
duduk di depan. Ia memandang kami berdua dengan melit, tetapi berkata tidak
apa-apa. Ketika kami masuk, Agha Baji menegang. Tegak dengan mulut melongo, ia
memandangi semua bangku kosong. Bunyi lonceng beberapa kali lagi kembali
menggerakkannya. Kami beranjak maju lalu duduk, tujuh baris dari layar. Aku
mencuri pandang ke arahnya. Ia duduk di bangkunya dengan menyilangkan kaki,
seraya menyesuaikan kerudungnya. Lampu-lampu padam, dan selama sekitar satu
menit, segalanya diselimuti kegelapan dan kesunyian. Beberapa saat kemudian,
sorot senter pemandu jalan menimpa kami. Barangkali ia mengira kami mau
aneh-aneh dan hendak menangkap basah. Seketika Agha Baji memalingkan wajahnya
ke arah cahaya itu, si pemandu jalan langsung mematikan senternya. Lega, aku
menyandar ke belakang dan menunggu film dimulai. Aku yakin aku tidak akan
ketakutan dengan akhirannya. Agha Baji ada di sisiku.
Selama durasi film, ia tidak bersuara sama sekali. Tidak ada batuk ataupun
bersin, atau kuap, atau desah, erang, gerak. Tidak ada. Duduk membungkuk, ia
menatap layar bagaikan patung. Seusai adegan di pancuran, aku memandangnya. Ia
masih tak bergerak. Aku menduga ia tertidur. Aku membungkuk sedikit ke depan
untuk melihatnya. Ia berpaling kepadaku sambil memberengut. Malu, aku kembali
menyandar dan terbenam ke dalam film lagi. Aku telah memutuskan untuk mengamati
dia selama rangkaian adegan di basemen tapi aku begitu terpaku oleh film itu sehingga aku lupa. Menjelang akhir
film di bagian Anthony Perkins dibawa ke kantor polisi, berhati-hati aku
melirik kepadanya. Bedanya hanyalah kali ini ia mencengkam bangku di depannya
dengan kedua tangan.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar