Local Exchange Trading Schemes (LETS/Skema Niaga Pertukaran Lokal) dan Timebanks
(Bank Waktu)
Menambahkan
kedua skema ini ke buku mengenai hidup tanpa uang sudah sewajarnya
dipertanyakan, tetapi, sebagaimana yang telah saya sebutkan di bab dua, cara ini dapat menjadi batu loncatan bagi siapa saja
yang saat ini masih terbelit dalam ekonomi moneter, memungkinkan mereka untuk
nantinya membuka jalan ke ekonomi kasih jika mereka menghendakinya.
LETS adalah jaringan orang-orang yang bersepakat menggunakan mata uang lokal (contohnya paun LETS) untuk berbagi keterampilan mereka. Para anggotanya menciptakan dan menukarkan kredit yang mana, seperti dikemukakan oleh Peter North[1], “mereka sokong dengan komitmen untuk melakukan cukup pekerjaan untuk membayar ‘komitmen’ ini (bukan ‘utang’) dalam waktu yang sepatutnya di masa depan … kita tidak memerlukan uang lokal sebelum memulai—kita hanya membuat komitmen kerja untuk orang lain yang meminta kita nantinya.” Sedikit menyerupai Freeconomy, tetapi tanpa semangat tanpa pamrih yang hanya sungguh-sungguh diciptakan oleh ekonomi kasih, juga tanpa ikatan kesalingbergantungan yang hanya dapat secara efisien dirusak oleh uang serta perkreditan langsung-dan-tepat (immediate-and-exact crediting).
Bank Waktu (Timebanks) hampir sama dengan LETS dalam
hal mempertukarkan sebentuk kredit. Ketika Anda membantu Mary mengurus mobilnya selama satu jam,
Anda menabung waktu sebanyak satu jam. Ketika Jake menyeru tetangga Anda
yang berisik dengan bet bisbol dan memperingatkannya, sebagaimana yang sudah disepakati, ia menabung satu dari jam yang Anda punya. Perbedaan
kritisnya dengan Bank Waktu adalah waktu milik setiap orang (yang dengan begitu
berarti kehidupan, karena apakah kehidupan itu kalau bukan waktu?) dihargai
setara, yang berarti orang yang membantu Anda menata kebun memperoleh waktu
yang sama banyaknya dengan yang Anda peroleh bila Anda memberi mereka
keterampilan perpipaan atau pengembangan web yang Anda miliki.
Jadi apa bedanya hal-hal ini dengan uang 'normal'? Hal-hal tersebut tidaklah cukup
berbeda untuk dilihat sebagai solusi jangka panjang, dan walaupun hal-hal
tersebut masih melanggengkan kisahan lama, meskipun dengan cara yang lebih
sehat, hal-hal tersebut memberikan masyarakat ketahanan ekstra terhadap
guncangan pada mata uang nasional, meskipun tidak terlalu berarti kecuali jika masyarakat
telah sepenuhnya melokalisasi ekonomi material mereka bersama dengan mata
uangnya. Hal-hal ini juga memungkinkan anggotanya untuk mengatasi berbagai hal sembari
mengurangi ketergantungan pada bank, pinjaman, dan proses penciptaan uang yang
pada dasarnya korup–-yang mana merupakan hal baik. Peranan hal-hal ini sebagai batu loncatan menuju cara hidup baru, jenis
perekonomian baru, sangatlah penting. Namun mata uang lokal tidak seharusnya
menjadi cawan suci kita.
Skema berbagi keterampilan lainnya
Swapaskill(.com)[2] dan
LocalSkillSwap(.com)[3]
adalah skema barter secara langsung, tanpa kredit atau paun yang didaftarkan
atau diperhitungkan. Di situs web mereka, Anda cukup memosting keterampilan apa
yang ingin Anda bagikan kepada orang lain dan keterampilan apa yang Anda
inginkan sebagai imbalannya. Dalam model POP saya mengenai tenaga kerja dan
keterampilan dalam perekonomian tanpa uang, model ini berada di antara
Freeconomy dan mata uang lokal–-keduanya bukan tanpa syarat, namun terasa jauh
lebih informal serta menghargai waktu dan keterampilan setiap orang secara
setara.
Keterampilan kuno
Alasan saya
menguraikan menu pilihan tanpa uang di awal bab dua adalah karena saat Anda menyebutkan konsep hidup tanpa
uang, yang timbul di benak orang berbeda-beda. Beberapa orang, misalnya ahli
ekonomi berbasis sumber daya seperti Peter Joseph dan Jacques Fresco,
membayangkan suatu teknotopia di mana mesin melakukan hampir semua pekerjaan
dalam konteks sebuah dunia yang secara sadar telah berevolusi melampaui konsep
utang dan kredit, konsep yang mana saat ini diwakili uang dalam bentuk fisik.
Yang lainnya, seperti Derrick Jensen[4],
percaya bahwa satu-satunya cara hidup yang berkelanjutan adalah pada taraf
penggunaan teknologi yang mendekati era paleolitikum. Kasus yang dihadirkan
Jensen dalam kedua volume bukunya, Endgame, berakar pada realitas dan
pemahaman ekologis yang mendalam, sangat kontras dengan fantasi orang-orang
yang menginginkan segalanya: planet yang sehat, hidup, lagi berkelimpahan,
sekaligus semua gawai yang hanya dapat diperoleh dengan mengorbankan itu.
Terlepas dari ada di sisi mana Anda dalam situasi tanpa uang,
sama sekali tidak ada alasan untuk mempelajari dasar-dasar bertahan
hidup—makan, minum, dan menghangatkan diri. Semua ini sering kali dapat
disandarkan pada pemahaman Anda akan cara membuat api: makanan biasanya perlu
dimasak dulu supaya bisa dimakan, air mungkin perlu dididihkan dulu untuk
memurnikannya dalam lingkungan yang tercemar, dan dalam iklim basah yang dingin
api bisa jadi esensial agar tidak membeku dan tetap kering.
Bergantung pada alasan pribadi Anda sehingga mau hidup tanpa
uang serta situasi unik Anda, cara untuk mulai membuat api ada banyak sekali. Dalam model POP saya untuk ekonomi
pribadi yang telah saya ringkaskan di bab tiga, saya menyatakan bahwa alasan pribadi saya untuk hidup
tanpa uang berpangkal dari hasrat saya untuk kembali terhubung dengan Alam dan
masyarakat beserta tempat-tempatnya. Berpegang pada filosofi itu artinya, pada
model POP saya agar dapat menyalakan api, busur penggerek sederhana muncul
paling atas.
Ada di antara Anda yang ingin hidup tanpa uang supaya tidak
lagi harus membebani diri dengan ekonomi upah, beserta segalanya yang seturut
dengan itu. Kalau persoalannya seperti ini, menggunakan pemantik bekas orang
mungkin ada di puncak model POP Anda. Saya kerap menemukan pemantik di aspal
jalan sebelah luar pub pada Minggu pagi.
Akan tetapi, ada banyak alasan bagus untuk tidak memanfaatkan
pemantik, sekalipun yang ditakdirkan berakhir di TPA sebelum habis masa
pakainya, begitu pula dengan berbagai bentuk alat pemantik api lainnya yang
diproduksi secara besar-besaran. Ada banyak alasan bagus untuk menggunakan
busur penggerek.
Pertama, busur
penggerek tidak bergantung pada sistem terindustrialisasi yang membunuh planet
ini, dan itu adalah hal yang penting bagi saya. Saya merasa sulit mengatasi disonansi
kognitif[5],
dan berbicara mengenai konsekuensi pribadi, sosial, dan ekologis dari industrialisasi
(berikut konsep-konsep yang mendasarinya) sekaligus turut memanfaatkannya
menyebabkan saya mengalami banyak disonansi kognitif. Kenyamanan tidaklah
membuat nyaman.
Kedua, menggunakan
busur penggerek memastikan saya harus selalu waspada akan tempat saya berada,
bagaimana kondisi meteorologisnya, tumbuhan apa saja yang ada di sekitar, serta
kondisi hari. Manfaat emosional, fisik, mental, dan spiritual dari hal ini
substansial dan amatlah diremehkan. Jika hari sedang basah, saya perlu
mengumpulkan bahan bakar pagi-pagi sekali, menaruhnya dekat-dekat tubuh saya
sementara saya wira-wiri sepanjang hari, supaya malamnya saya punya cukup bahan
kering untuk menyalakan api. Teknologi pada taraf serendah itu membuat saya
hadir pada momen sekarang, dan sangat peka akan sekitar. Sebagai perbandingan,
pemantik jauh kurang bermanfaat bagi kesejahteraan diri holistik maupun
egosentrik secara menyeluruh. Kenyamanan membuat kita kurang peka.
Ketiga, sistem
terindustrialisasi yang menciptakan alat-alat kecil berguna seperti itu boleh
jadi tidak akan ada lagi di masa depan. Maka mempelajari caranya menyalakan api
tanpa alat tersebut dapat menyelamatkan nyawa Anda dalam skenario apokaliptik
yang kita semua hindari. Demikian juga, jika karena sebab apa pun, Anda mendapati
diri berada di antah-berantah (misalkan hutan) tanpa pemantik yang berfungsi,
maka mengetahui caranya menggunakan bahan-bahan alam yang ada dapat menentukan
antara hidup dan mati. Kenyamanan dapat membuat kita tidak terampil yang bisa
jadi berbahaya.
Keempat, membuat
busur penggerek itu seru. Kenyamanan itu membosankan.
Begitu Anda menguasai seni membuat api, Anda telah mengambil
langkah pertama untuk mengetahui cara hidup di tengah-tengah lahan yang Anda
dapati. Namun ini barulah langkah pertama yang amat mendasar. Segala
keterampilan yang Anda perlukan adalah buku tersendiri. Buku Ray Mears, Outdoor
Survival Handbook[6]
(Pedoman Bertahan Hidup di Alam Terbuka) dan Essential Bushcraft[7]
(Dasar-dasar Keterampilan Hidup di Hutan Belukar) beserta buku John ‘Lofty’
Wiseman, SAS[8]
Survival Handbook[9]
(Pedoman Bertahan Hidup SAS) sama-sama panduan yang amat berguna atas banyak
alasan. Dengan mengesankan, Mears bicara mengenai kebutuhan untuk berjalan
dengan amat lemah lembut di Alam, meninggalkan sesedikit mungkin jejak (yang
juga merupakan keterampilan bertahan hidup yang baik di pedalaman dengan
hewan-hewan yang ingin memangsa Anda), sembari tetap memberikan segala
keterampilan yang akan diperlukan. Lofty lebih merupakan ahli bertahan hidup,
yang bisa dimaklumi mengingat latar belakang militernya, dan fokusnya adalah
pada dasar bertahan hidup diri egosentris semata. Saya cenderung di sisi Mears,
tetapi ada begitu banyak pengetahuan praktis dijejalkan dalam buku Wiseman
sehingga buku tersebut layak dibawa jika Anda cukup beruntung untuk bertualang
keluar dari peradaban.
Membaca tentang keterampilan-keterampilan yang hampir
terlupakan itu boleh diterima, praktiknya belum tentu. Saya anjurkan dengan
sangat agar mengambil kursus yang dekat dengan lokasi Anda, bersama guru yang
memiliki reputasi bagus serta penghormatan yang mendalam terhadap Alam. Makin
lama jangka waktu kursusnya, makin baik, karena akan memberi Anda pengalaman
untuk mempraktikkan dan mengasah keterampilan-keterampilan ini dalam segala
macam skenario dan kondisi cuaca. Alternatifnya, mengapa tidak mengadakan
kelompok penggemar keterampilan alam liar di area Anda, sehingga dapat bertemu
secara rutin dan mengajari satu sama lain keterampilan apa pun yang diketahui,
atau menjalankan serangkaian kelas malam atau akhir pekan untuk secara
cuma-cuma berbagi keterampilan pada aspek bertahan hidup di hutan belukar?
Keterampilan ini bisa saja benar-benar diperlukan dan berharga di masa
depan.
Elemen krusial lain dalam kehidupan tanpa uang bagi yang mau
menjalankannya secara murni adalah mengasah batu api, karena ini mengatasi
persoalan mengenai cara membuat alat pemotong (yang adalah pokok dalam sebagian
besar keterampilan hidup di hutan belukar) dan tidak memerlukan taraf teknologi
yang lebih tinggi daripada yang kita butuhkan untuk dapat berkelanjutan dalam
jangka yang tak terbatas.
Seni mengasah batu api
oleh Will
Lord, pengasah batu api, guru dan pendiri Beyond 2000BC[10]
Mengasah batu
api adalah seni membuat perkakas (misalnya pisau) dan proyektil dengan memecah
bebatuan berbahan silika seperti batu api. Keterampilan ini tragisnya sudah
hampir tidak terdengar lagi di dunia Barat, padahal merupakan bagian yang
sangat penting dalam kehidupan sebagian masyarakat selama lebih dari sepuluh
ribu tahun.
Batu api ketika ditemukan biasanya terbungkus oleh suatu
selubung yang disebut dengan korteks. Bila pecah, secara disengaja atau tidak,
batu api memiliki permukaan yang mulus dengan sisi-sisi yang setajam silet.
Sisi-sisi inilah yang menarik bagi nenek moyang kita. Warna permukaan bagian
dalam dapat sangat beragam, tetapi biasanya hitam yang dianggap paling baik
karena kandungan silikon yang tinggi.
Dengan mengetahui hal ini, Anda hendak membuat batu api
tersebut agar bentuknya pas untuk tujuan apa pun nantinya, juga aman digunakan.
Dua ‘alat’ yang digunakan untuk mengasah batu api adalah:
- Palu keras: berupa bebatuan seperti kuarsit atau basal.
- Palu lunak: dibuat dari tanduk rusa, menggunakan bagian beratnya (yang terhubung dengan kepala rusa) sebagai permukaan palu. Disebut dengan korona.
Prosesnya dimulai dengan menggunakan palu keras untuk
membuang bagian-bagian besar yang tidak diperlukan dari batu api. Ini hanya
berhasil dengan pertimbangan matang terhadap detail dari permukaan yang akan
dipukul, seperti sudut dari batu api serta volume yang hendak dilepaskan.
Setelah proses ini dirasa telah terkendali, dan diperoleh bentuk dasar dari batu
api itu, maka sisi-sisinya dikikis halus sampai menyerupai tombak dan menjadi
bentuk yang kita sebut sebagai platform. Benda ini lalu dipukul dengan palu
lunak, supaya membentuk kepingan yang lebih panjang dan lebih tipis, sehingga
sisi-sisinya menjadi runcing sebagaimana diinginkan.
Jadi mengapa bersusah payah dengan seni kuno mengasah batu
api di dunia yang sudah sarat oleh keramaian teknologi (dan pisau)? Ada banyak
alasan untuk itu, salah satunya arkeologi. Namun banyak di antara kita sekarang
menyadari bahwa kita perlu kembali pada cara hidup yang lebih lembut di Bumi,
dan bahwa kita perlu menengok pada beberapa contoh yang diberikan oleh nenek
moyang kita yang telah hidup di sini untuk waktu yang begitu lama dalam harmoni
bersama Bumi. Untuk memulainya, apakah yang lebih baik selain daripada
keterampilan sehari-hari yang kita perlukan untuk membuat alat dan senjata
paling dasar.
Selagi Anda melakukan proses mengasah batu api, masa lalu
tampak terbuka bagi Anda, sehingga Anda memperoleh rasa pemberdayaan diri yang
serupa dengan rasa yang Anda alami ketika menyalakan api melalui proses
gesekan—rasa akan kebebasan, bahwa Anda dapat bertahan hidup tanpa produk dunia
modern berikut segala kerusakan dan eksploitasi yang menyertainya.
[1] North, Peter (2010). Local Money. Green Books. p.70.
[2] Untuk keterangan lebih lanjut mengenai Swapaskill, atau
untuk bergabung, kunjungi www.swapaskill.com
[3] Untuk keterangan lebih lanjut mengenai LocalSkillSwap,
atau untuk bergabung, kunjungi www.localskillswap.com
[4] Derrick Jensen adalah penulis Endgame (2006, Seven
Stories Press), A Language Older Than Words (2002, Souvenir Press), The
Culture of Make Believe (2004, Chelsea Green) dan masih banyak lagi.
[5] Kegelisahan yang orang rasakan ketika perilaku mereka
tidak bersesuaian dengan nilai dan keyakinan yang mereka anut.
[6] Mears, Ray (2001). Outdoor Survival Handbook: A
Guide To The Resources And Materials Available In The Wild and How To Use Them
For Food, Shelter,Warmth and Navigation. Ebury Press.
[7] Mears, Ray (2003). Essential Bushcraft.
Hodder & Stoughton.
[8] Resimen spesialis tentara Inggris yang dilatih dalam
teknik komando peperangan dan digunakan dalam operasi rahasia (terutama melawan
kelompok teroris)
[9] Wiseman, John Lofty (2006). SAS Survival Handbook.
Harper Collins.
[10] Untuk keterangan lebih lanjut mengenai Will Lord,
mengasah batu api atau kursus-kursusnya, kunjungi www.beyond2000bc.co.uk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar