Dalam sorot cahaya yang luruh dari satu-satunya jendela di
ruangan itu, Abla[1]
Saniya si penjahit menjalankan mesinnya. Ia sadar untuk memanfaatkan berkas
cahaya matahari yang penghabisan sebelum ruangan gelap seluruhnya. Abla Saniya
menyalakan lampu yang kabelnya berasal dari jendela. Listrik dibayarnya lima
paun sebulan. Uang itu dikumpulkannya dengan amat cermat, sebab penghasilannya
selalu melumer oleh senyum anak-anaknya serta jerih payah sehari-hari.
Ruangan itu tidaklah sempit dan terbilang murah di Jalan
Turki karena ukurannya yang lapang itu. Di bagian depan terdapat dapur. Kamar
mandi pun ada. Sewanya tiga paun. Abla Saniya menyewa ruangan itu sejak
bertahun-tahun lalu, sewaktu papan tanda persewaan dipasang di mana-mana di
sepanjang jalan. Abla Saniya menganggap dirinya beruntung sebab al-Mualim
Tahsin, yang bekerja di kafe, memasangkan listrik untuknya dengan syarat istri
dan anak-anak pria itu didahulukan saat mengepaskan pakaian. Jarang-jarang
penyewa yang mampu berbaur dengan yang tidak mampu.