Selamat Datang
Blog ini dibuat untuk menjadi tempat berbagi proses belajar saya dalam penulisan karya kreatif sekalian pemahaman bahasa asing, yaitu dengan menerjemahkan. Hasil terjemahan dalam blog ini semata untuk kepentingan belajar dan tidak dikomersialkan. Terima kasih sudah berkunjung.
Pengarang/Penerjemah
20211031
Rich Without Money - Selanjutnya: Berkontribusi kepada Masyarakat (Tomi Astikainen, 2019)
20211024
Rich Without Money - Kohesi Sempurna: Cintai Kesendirian Anda (Tomi Astikainen, 2016)
20211017
Rich Without Money - Kebersamaan Sejati: Keluarga Besar yang Sesungguhnya (Tomi Astikainen, 2016)
20211010
Rich Without Money - Sedikit Rasa Memiliki: Berani Menonjol (Tomi Astikainen, 2016)
20211003
Rich Without Money - HUBUNGAN YANG DIMILIKI TANPA UANG (Tomi Astikainen, 2007)
20210926
Just Wan-derful (Louise George Kittaka, 2012)
Kabar baik: Takeshi “Tak” Matsumoto kelas delapan
baru saja mendapat peran utama untuk sebuah acara serial di TV nasional Jepang.
Kabar buruk: pemain pendampingnya adalah seorang mas-mas yang pada waktu
luangnya menjadi model kover novel percintaan, seorang mbak-mbak yang suaranya
kayak Minnie Mouse pakai helium, serta seekor anjing berwarna ungu.
Catatan pribadi: Cari tahu apa kontrak yang ditandatangani Mum dengan studio
TV itu mengikat.
=
Awalnya ibunya lah yang punya gagasan untuk mendaftarkan Tak dan adik perempuannya, Keina, ke agen pencari bakat. Keina langsung mendapat beberapa pekerjaan sebagai model, tapi Tak sudah terlalu besar untuk sampel ukuran standar pakaian anak-anak, sehingga dia tidak kebagian apa-apa. Kadang-kadang agen tersebut menelepon ketika ada audisi ini itu, namun biasanya Tak terlihat kurang menyerupai anak Jepang ketika mereka inginnya anak Jepang, dan kurang menyerupai gaijin ketika mereka inginnya anak gaijin. Ibunya dari Selandia Baru sedangkan ayahnya orang Jepang. Mendapat label “blasteran” tidak menyinggung Tak, namun merisaukan ibunya. Ibunya sering kali perlu menjelaskan kepada orang-orang Jepang bahwa “bikultural” adalah istilah yang lebih tepat bagi anak-anak seperti Tak dan Keina.
20210919
Perjalanan Ulang-alik Shuya (Liza Dalby, 2012)
Saat itu bulan Maret. Tahun pertamanya di SMA
hampir berakhir. Tadinya Shuya mengira dia tidak akan sanggup menahan
perjalanan panjang pulang pergi ke SMA Rikkyo dari rumahnya di Meguro. Dua jam
setiap hari terbuang di kereta untuk bolak-balik ke Saitama! Tapi banyak
pekerja kantoran dan lain-lain yang melakukannya, ibunya mengingatkan dia. Begitu
pula dengan teman-temannya. Satu jam masing-masing untuk pergi dan pulang tidak
sepantasnya dikeluhkan. Bahkan sekalipun dia mesti berganti kereta sampai empat
kali.
“Coba
baca buku,” kata mereka. “Kamu kan suka baca—manfaatlah kesempatan itu.”
Shuya memang suka baca. Dan ternyata dia suka menulis juga. Kegiatan favoritnya sepulang sekolah adalah Klub Sastra. Anggotanya menghabiskan sebulan untuk mengarang haiku, sebulan untuk cerpen, dua bulan skrip, dan satu semester untuk menulis novel. Untuk novel rasanya berat. Tapi sampai waktu itu semuanya berjalan menyenangkan.