“Hei, manis, bokongmu bagus,” ucap si sopir taksi bermata sendu
dari balik meja pemesanan kedai 24 jam itu. Sepotong donat menggeliat dalam
rahangnya yang tak dicukur. Si pramusaji mendelik padanya. Ia muak
dilirik-lirik, ataupun ditatap dengan jijik, kapanpun ia membungkuk untuk
memungut lap. “Kalau ada kambing yang kesasar, mereka bakal lirak-lirik dan
mengatakan kekonyolan serupa,” keluhnya pada wanita tua di dekat mesin kas.
Sebelumnya ia telah memberi semangkuk gratis sup panas pada wanita itu. “Aku
sudah muak. Kuharap tidak ada yang bisa melihatku.” Ternyata wanita itu adalah
ibu peri yang sedang menyamar, dan sebagai rasa terima kasihnya atas sup
gratis, ia mengangkat sendoknya seperti tongkat dan mengabulkan permintaan si
pramusaji. Ketika pramusaji itu hendak menyerahkan tanda terima pembayaran pada
si sopir taksi, kepala lelaki itu seketika berpaling. Apa lelaki itu
menolaknya? Si pramusaji bergeser ke jangkauan pandang si sopir taksi dan
kepala lelaki itu menyeruduk ke arah lain. “Ya Tuhan, sakit tahu,” sungutnya.
Si pramusaji membelalak ke arah wanita tua, namun lansia baik hati itu telah
raib.
Selamat Datang
Blog ini dibuat untuk menjadi tempat berbagi proses belajar saya dalam penulisan karya kreatif sekalian pemahaman bahasa asing, yaitu dengan menerjemahkan. Hasil terjemahan dalam blog ini semata untuk kepentingan belajar dan tidak dikomersialkan. Terima kasih sudah berkunjung.
Pengarang/Penerjemah
Agus Kurniawan
(1)
Aimee Bender
(2)
Ajip Rosidi
(1)
Alan Gratz
(1)
Alberto Manguel
(1)
Alejandro Zambra
(1)
Alex Patterson
(1)
Alexa Firat
(1)
Alexandre Najjar
(1)
Alice Guthrie
(1)
Alice Walker
(1)
Aliza Shevrin
(1)
Ambika Rao
(1)
Ambrose Bierce
(1)
Amelia Gray
(1)
Amy Hempel
(1)
Anders Widmark
(2)
Andrea G. Labinger
(3)
Andrew Driver
(10)
Ángela Pradelli
(2)
Ann Beattie
(1)
Anna Sophie Gross
(1)
Anne McLean
(1)
Aoi Matsushima
(1)
Ariel Urquiza
(1)
Behnam Dayani
(3)
Bel Kaufman
(1)
Brandon Geist
(5)
Catherine Rose Torres
(1)
César Aira
(1)
Charlotte-Arrisoa Rafenomanjato
(1)
Chiba Mikio
(1)
Chikako Kobayashi
(1)
Chimamanda Ngozi Adichie
(1)
Chris Andrews
(1)
Christopher Moseley
(1)
Clark M. Zlotchew
(6)
Cynthia Ozick
(1)
David Herbert Lawrence
(2)
David Karashima
(1)
Dayeuh
(2)
Donald A. Yates
(1)
Dorothy Parker
(1)
Dorthe Nors
(1)
Ed Park
(1)
Elizabeth Harris
(1)
Estelle Gilson
(1)
Fernando Sorrentino
(15)
FiFadila
(1)
Fiona Barton
(1)
Francis Marion Crawford
(2)
Fumiko Enchi
(1)
Gabriel Gárcia Márquez
(1)
Giulio Mozzi
(1)
Grace Paley
(1)
Gregory Conti
(1)
Gregory Rabassa
(1)
Guillermo Fadanelli
(1)
Guillermo Martínez
(1)
Hari Kumar Nair
(1)
Haruki Murakami
(24)
Hector Hugh Munro (Saki)
(2)
Helena Maria Viramontes
(1)
Herbert Ernest Bates
(1)
Hitomi Yoshio
(1)
Ian MacDonald
(1)
Iris Maria Mielonen
(1)
Isaac Bashevis Singer
(1)
Italo Calvino
(1)
Jack Kerouac
(2)
Jacob dan Wilhelm Grimm
(1)
James Patterson
(1)
James Thurber
(5)
Jay Rubin
(13)
Jean Rhys
(1)
Joehana
(2)
John Cheever
(1)
John Clare
(1)
John Updike
(1)
Jonas Karlsson
(1)
Jonathan Safran Foer
(1)
Jonathan Wright
(1)
Jorge Luis Borges
(1)
Juan José Millás
(1)
Julia Sherwood
(1)
K. S. Sivakumaran
(1)
Kader Abdolah
(1)
Kalaivaathy Kaleel
(1)
Karunia Sylviany Sambas
(1)
Kate Chopin
(1)
Katherine Mansfield
(1)
Keiichiro Hirano
(5)
Kevin Canty
(1)
Khaled Hosseini
(1)
Khan Mohammad Sind
(1)
Kurahashi Yumiko
(1)
László Krasznahorkai
(1)
Laura Wyrick
(27)
Laurie Thompson
(1)
Laurie Wilson
(1)
Lawrence Venuti
(1)
Liliana Heker
(1)
Lindsey Akashi
(27)
Liza Dalby
(1)
Lorrie Moore
(5)
Louise George Kittaka
(1)
Lynne E. Riggs
(1)
Mahmud Marhun
(1)
Malika Moustadraf
(1)
Marek Vadas
(1)
Marina Harss
(1)
Mark Boyle
(32)
Mark Sundeen
(1)
Mark Twain
(2)
Marshall Karp
(1)
Martin Aitken
(1)
Massimo Bontempelli
(1)
Megan McDowell
(1)
Megumi Fujino
(1)
Mehis Heinsaar
(1)
Michael Emmerich
(1)
Michele Aynesworth
(3)
Mieko Kawakami
(1)
Mihkel Mutt
(1)
Mildred Hernández
(1)
Mitsuyo Kakuta
(1)
Morgan Giles
(1)
Na’am al-Baz
(1)
Nahid Mozaffari
(3)
Naoko Awa
(1)
Naomi Lindstrom
(1)
Norman Thomas di Giovanni
(1)
Novianita
(1)
Nur Laili M.
(2)
O. Henry
(1)
Ottilie Mulzet
(1)
Pamela Taylor
(1)
Paul Murray
(54)
Paul O'Neill
(1)
Pere Calders
(1)
Peter Matthiessen
(1)
Peter Sherwood
(1)
Philip Gabriel
(11)
Polly Barton
(1)
Ralph McCarthy
(4)
Ramona Ausubel
(1)
Ray Bradbury
(3)
Raymond Carver
(2)
Raymond Chandler
(2)
Rhett A. Butler
(1)
Robert Coover
(3)
Rokelle Lerner
(359)
Ruqayyah Kareem
(1)
Ryu Murakami
(4)
Ryuichiro Utsumi
(1)
S. Yumiko Hulvey
(1)
Sam Garrett
(1)
Sam Malissa
(1)
Samantha Schnee
(1)
Saud Alsanousi
(1)
Sebastiano Vassalli
(1)
Selina Hossain
(1)
Sergey Terentyevich Semyonov
(1)
Shabnam Nadiya
(1)
Sherwood Anderson
(1)
Shirin Nezammafi
(1)
Shun Medoruma
(1)
Soekria
(2)
Sophie Lewis
(1)
Stephen Chbosky
(10)
Stephen Leacock
(1)
Susan Wilson
(1)
Suzumo Sakurai
(1)
Tatsuhiko Takimoto
(27)
Thomas C. Meehan
(2)
Tobias Hecht
(1)
Tobias Wolff
(1)
Tomi Astikainen
(40)
Toni Morisson
(1)
Toshiya Kamei
(2)
Ursula K. Le Guin
(1)
Vina Maria Agustina
(2)
Virginia Woolf
(1)
W. H. Hudson
(1)
Wahyu Wibisana
(3)
Wajahat Ali
(1)
Widya Suwarna
(1)
William Saroyan
(1)
William Somerset Maugham
(1)
Yasutaka Tsutsui
(10)
Yu Miri
(1)
20170313
20170306
An Evening of Long Goodbyes, Bab 5 (Paul Murray, 2003)
Hal pertama
yang kuingat—setelah potongan batu yang memelesat itu—yaitu rencanaku telah
terwujud, sebab selama beberapa waktu setelah terbakarnya Folly, aku mengalami
kesan bahwa aku tengah berdiam di Cile, di suatu hacienda[1]
dari masa yang memikat, bersama penyair dan pemenang Nobel, W. B. Yeats.
Kedengarannya mustahil, ya, tetapi mimpi kan memang begitu, kita tidak tahu itu
mimpi saat kita sedang mengalaminya. Lagi pula, aku dan Yeats bersenang-senang,
dan aku tidak merasa seperti yang sedang berbuat onar. Kami tinggal dinaungi
keteduhan Andes, di lereng Lembah Casablanca. Santiago berada di sebelah timur
adapun Samudera Pasifik di barat. Aku bisa menyaksikan laut dari beranda, garis
biru samar di seberang kebun anggur.
Saat itu memasuki musim panas, sehingga siangnya panjang, dan segalanya di lembah terasa bergairah oleh warna-warni kehidupan. Adakalanya hawa begitu panas sehingga aku merasa sedang dibekap, seperti ada selimut tebal membungkus wajahku, sementara urat-uratku nyeri seolah-olah habis dilumatkan. Namun penderitaan itu tidak pernah berlangsung lama-lama. Ketika sudah tidak terasa panas lagi, aku biasa pergi ke kebun di belakang rumah dan berjalan-jalan dengan riang di antara lebah-lebah serta kembang-kembang sepatu yang mekar. Pepohonan limau yang tumbuh di sudut kebun merebakkan aromanya. Yeats suka memetiki buahnya untuk membuat gimlet yang rasanya lain daripada yang lain, begitu segar, kuat, dan dingin hingga aku termegap-megap meminumnya, seperti meloncat ke lautan es.
Saat itu memasuki musim panas, sehingga siangnya panjang, dan segalanya di lembah terasa bergairah oleh warna-warni kehidupan. Adakalanya hawa begitu panas sehingga aku merasa sedang dibekap, seperti ada selimut tebal membungkus wajahku, sementara urat-uratku nyeri seolah-olah habis dilumatkan. Namun penderitaan itu tidak pernah berlangsung lama-lama. Ketika sudah tidak terasa panas lagi, aku biasa pergi ke kebun di belakang rumah dan berjalan-jalan dengan riang di antara lebah-lebah serta kembang-kembang sepatu yang mekar. Pepohonan limau yang tumbuh di sudut kebun merebakkan aromanya. Yeats suka memetiki buahnya untuk membuat gimlet yang rasanya lain daripada yang lain, begitu segar, kuat, dan dingin hingga aku termegap-megap meminumnya, seperti meloncat ke lautan es.
20170227
Referensial (Loorie Moore, 2012)
Untuk ketiga kalinya dalam tiga tahun ini, mereka
membicarakan hadiah ulang tahun apa yang pantas untuk putra perempuan itu, yang mengidap kelainan jiwa.
Begitu sedikit barang yang boleh dibawa ke dalam ruangannya. Hampir semuanya
dapat dijadikan senjata. Maka sering kali barang harus diserahkan di meja depan. Kalau ada
permohonan, barulah barang itu dibawa ke dalam oleh petugas—yang akan terlebih
dulu memeriksanya kalau-kalau dapat melukai. Pete membawa sekeranjang selai.
Namun karena wadahnya berupa toples kaca, barang itu tidak diperbolehkan untuk
dibawa masuk. “Aku lupa,” kata Pete. Toples-toples itu disusun berdasarkan
warna, dari yang paling terang yaitu selai jeruk, beri, lalu ara, seakan-seakan
isinya berupa urine milik orang yang sakitnya bertambah-tambah parah. Memang
sebaiknya disita saja, pikir perempuan itu. Mereka akan mencari hadiah lainnya.
Pete
sudah hadir dalam kehidupan mereka selama enam tahun, sewaktu putra perempuan
itu berusia dua belas tahun dan baru mulai linglung, berkomat-kamit diam-diam,
dan berhenti menyikat gigi. Kini empat tahun telah berlalu sejak itu. Cinta
mereka pada Pete panjang dan berlika-liku, dengan kelok-kelok tersembunyi tanpa
benar-benar ada pemberhentian. Putra perempuan itu menganggap Pete semacam ayah
tiri. Perempuan itu dan Pete menua bersama, walau tanda-tandanya lebih tampak pada
si perempuan. Ia mengenakan blus terusan berwarna hitam supaya terlihat
ramping. Rambutnya yang mulai kelabu tak disemir, sering kali dijepit dengan helai-helai
menjuntai bak lumut Spanyol. Segera setelah putranya ditelanjangi, dipakaikan
baju pasien, dan menetap di rumah sakit, ia juga melepaskan kalung, anting,
syal—segala perangkat artifisial untuk mengganti anggota tubuhnya yang rusak
atau hilang, begitu katanya mencoba menghibur Pete—dan menaruh semuanya itu di
dalam map berkantong banyak di bawah tempat tidur. Ia tidak diperbolehkan
mengenakan perhiasan selama kunjungan ke rumah sakit, maka ia tidak
mengenakannya lagi sama sekali, semacam tenggang rasa pada anaknya, seperti
menjanda kembali kendati ia memang sudah menjanda. Tidak seperti wanita lain
pada usianya (yang cenderung berusaha terlalu keras, dengan pakaian dalam
mengerikan dan perhiasan berkilauan), kini ia merasa bahwa upaya semacam itu
menggelikan. Maka sewaktu bepergian penampilannya pun menyerupai wanita Amish,
atau, bisa jadi lebih buruk bila cahaya musim semi yang tanpa ampun menyambar
wajahnya, seperti pria Amish. “Buatku, kamu selalu kelihatan cantik,” Pete
tidak pernah bilang begitu lagi.
20170220
An Evening of Long Goodbyes, Bab 4 (6/6) (Paul Murray, 2003)
“Eh, kamu,” sahut gadis itu.
“Ya,” ujarku, merasa agak
terlampaui.
“Kemarilah,” ucapnya sopan,
sambil meletakkan buku ke sampingnya.
“Terima kasih.” Bergeming
saja ia menatapku menghela diri melewati pintu kolong. “Aku tahu kamu akan
kemari cepat atau lambat,” ucapnya. “Ada apa?”
“Oh, ada sedikit cekcok di
rumah. Saudara, ah, saudaramu baik juga mau membantu ….”
Bahkan dengan penerangan
remang-remang aku bisa menilai dia ini gadis yang menarik, dengan rambut hitam
sebagus saudara-saudaranya serta raut tegas memesona. Warna biru matanya tajam
menyetrum, dengan tatapan yang seolah-olah membenamkan dirinya dalam-dalam di
mata orang yang ia lihat tanpa menjurus langsung. Terasa agak melegakan saat ia
mengejap.
“Mungkin itu yang terbaik,” ucapnya enteng, dengan nada yang sama-sama lunak lagi samar; lantas mengangguk, seakan-akan bersepakat dengan dirinya sendiri. Aksennya lebih halus ketimbang ibunya sehingga suaranya terkesan bak beledu, menghipnotis. Mendadak aku merasa tidak lagi terburu-buru harus pergi. Ia mulai bersenandung sendiri, sambil jarinya memilin-milin rambut, lantas tahu-tahu ia terdiam, seakan-akan ada yang terpikir olehnya. “Kamu mau minum? Rupanya tahu-tahu kami punya anggur pilihan.”
“Mungkin itu yang terbaik,” ucapnya enteng, dengan nada yang sama-sama lunak lagi samar; lantas mengangguk, seakan-akan bersepakat dengan dirinya sendiri. Aksennya lebih halus ketimbang ibunya sehingga suaranya terkesan bak beledu, menghipnotis. Mendadak aku merasa tidak lagi terburu-buru harus pergi. Ia mulai bersenandung sendiri, sambil jarinya memilin-milin rambut, lantas tahu-tahu ia terdiam, seakan-akan ada yang terpikir olehnya. “Kamu mau minum? Rupanya tahu-tahu kami punya anggur pilihan.”
20170213
An Evening of Long Goodbyes, Bab 4 (5/6) (Paul Murray, 2003)
“Apa, apa?” ia
berkomat-kamit, sambil membuka separuh mata yang disebutnya penerawang-segala.
“Aku sudah bangun kok.”
“Enggak lah, kamu ini gampang
ketiduran, tahu.”
Sambil mengerang ia
mengangkat dirinya dari tanah. “Lo, sampean belum mati?”
“Belum—sialan kamu,
MacGillycuddy, enggak bisa, ya, kamu ini berjaga barang sejam saja?”
“Videonya berhasil, kan?”
jawabnya bersungut-sungut, sambil menariki ranting-ranting kecil dari
punggungnya.
“Yah, ada yang tertangkap,” sahutku. “Tetapi ini tuh enggak masuk akal
banget. Menurut rekaman ini Frank sama sekali enggak bersalah dan malah Mbok P
yang ada di balik segalanya, dengan bantuan semacam makhluk, boleh jadi makhluk halus.” Aku menyodorkan kamera ke
tangannya. “Lihat sendiri deh.”
20170206
An Evening of Long Goodbyes, Bab 4 (4/6) (Paul Murray, 2003)
“Sekarang memang sudah larut,” ucapku rancu,
sambil mengitari ruangan memasang lilin-lilin pada kandil. Diiringi goyangan
yang hampir tak kentara, ia mengikuti jalanku, sembari menganugerahiku senyuman
ganjil penuh kasih.
“Sepertinya aku harus
memanggil taksi.” Nada suaranya merendah jadi berat dan datar yang
memanggil-manggil sisi tersembunyi dari diriku.
“Sepertinya,” sahutku. Ia
bergeming. Aku terus memasang lilin-lilin. Seiring dengan api yang
berturut-turut menyala pandanganku mengabur dan gairahku meningkat sedikit demi
sedikit; hingga aku serasa dikelilingi api dalam pesta pora, yang melaluinya
wajah Laura berlenggak-lenggok bak jarum kompas. Aku merasa seperti Nero, yang
memimpin Roma melalui tarian wals Laura yang penghabisan. “Pasti menyenangkan, ya, mengobrol lagi dengan abang
Frank seperti tadi,” ucapku begitu saja.
20170127
An Evening of Long Goodbyes, Bab 4 (3/6) (Paul Murray, 2003)
“Enggak percaya aku,” Laura menempelkan sebelah tangan ke dadanya.
“Apa kabar, cuk?” Frank
melenguh, sambil membentangkan kedua lengannya lebar-lebar.
Laura melambung ke dalam
rengkuhan Frank disertai pekikan gembira. “Enggak
percaya aku,” sahutnya lagi, agak teredam oleh pelukan Frank.
“Enggak percaya apa?” Bel
menanyai Laura saat akhirnya muncul kembali.
Dengan wajah merah akibat
kemujuran yang tak disangka-sangka, Laura mulai tak putus-putusnya
menceritakan. Kepayahan aku duduk dan mulai meminum gelas anggurnya. Tampaknya
Frank salah seorang penggembira-liburan yang jangak itu di Yunani: malah, ialah
salah seorang penjambret-kaus kesayangan Laura.
“Aku enggak akan pernah
melupakan malam itu,” tawa Laura, berulang-ulang.
“Aku juga,” Frank mengerling,
seraya memandangi dada Laura yang molek.
20170120
An Evening of Long Goodbyes, Bab 4 (2/6) (Paul Murray, 2003)
Jam berdentang pukul tujuh.
Untuk terakhir kali, aku meracikkan diriku gimlet yang menenangkan, dan
bergegas ke kamar. Kupasang ban leher dan kuikat dasiku; kusematkan manset dan
kusemir sepatuku. Di bawah tempat tidur menyembul tas kecil berisi barang yang
telah kusediakan untuk kubawa serta: buku ungkapan bahasa Amerika Latin,
secukupnya uang dalam dolar dan peso, celana dalam dan kaus kaki pilihan yang
sama-sama bersahaja; potret keluarga; tiara plastik kesayangan Bel pada masa ia
menjadi putri, bertahun-tahun lalu, sebagai ganti potret dirinya; cetakan
pertama kumpulan syair W. B. Yeats milik Ayah; potret ukuran 8 x 10 Gene pada
awal kariernya—sewaktu orang-orang menyebutnya the GET girl, kependekan dari Gene Eliza Tierney, sebab ia selalu
memperoleh keinginannya, atau setidaknya begitulah yang terlihat di permukaan.
Foto-foto Laura di buku
tahunan tersusun secara kronologis di alas tilam sedari aku mengamatinya awal
malam itu. Sekarang ketika mataku menjatuhi mereka, aku menyadari bahwa dengan
penataan seperti itu foto-foto tersebut hampir menyerupai rol film: tiap tahun
terpahat dalam bingkai tersendiri, yang kalau diproyeksikan sesuai urutan akan
mempertunjukkan kedatangannya—secara tersentak-sentak, remang-remang—menjelma
hidup di depan bola matamu sendiri; berlalu dari masa kanak-kanak yang polos
menjadi bintang film pujaan sungguhan yang berpendar-pendar dalam hitungan
detik saja, muncul keluar dari eter bagaikan jin seluloid …. Sekarang, dengan
sendirinya, benakku mulai memutar rol film terakhir yang hilang: adegan ketika
bel pintu berdering dan, seraya menyapu rambutku dengan mantap untuk yang
terakhir kali, aku berlari menuju tangga, dan tiba tepat ketika Mbok P mengantar
masuk seorang wanita muda ramping dengan rambut panjang sewarna madu, yang
mengangkat bahu melepaskan mantel musim dinginnya demi menampakkan bahu putih
telanjang serta gaun hitam dan berkelok-kelok serupa lidah api; di tangga,
tanpa terlihat olehnya, aku termegap-megap mengamati dirinya—hingga tahu-tahu
kami bertatapan, dan saat itulah kami terhantar ke alam lain: tempat gairah
terlepas dengan mudahnya dan mendalam serta tercetus lewat lelucon dan aksi
berani, dengan ruang sesekali untuk mengutarakan monolog penuh emosi di akhir;
ketika segalanya berada pada tempatnya tanpa ada orang-orang lain yang menanti
di sisi panggung untuk mengalihkan dialog, atau menutup adegan dengan acara
pelelangan.
Langganan:
Postingan (Atom)