Sejak pindah ke desa, aku merasa diriku mulai mengantuk pada pukul sepuluh
malam. Aku pergi tidur bersamaan dengan burung-burung betet dan ayam-ayamku di
kandang. Di tempat tidur, dengan saksama aku membaca Phantasm of the Living[1],
meskipun semestinya aku segera mematikan lampu. Hingga pukul dua pagi aku
dicengkam oleh tidur tanpa mimpi—atau pernah juga dengan mimpi yang tak dapat
kuingat. Pada pukul dua, aku bangun dalam keadaan segar sepenuhnya. Kepalaku
berdengung dengan banyaknya rencana dan kemungkinan. Pada malam musim dingin
yang hendak kukisahkan, muncul ilham padaku untuk menulis tentang seorang
Komunis—sebetulnya, teoritikus Komunis—yang menghadiri sebuah konferensi sayap
kiri mengenai perdamaian dunia dan melihat hantu. Aku melihat semuanya dengan jelas:
ruang pertemuannya, potret Marx dan Engels, mejanya yang dilapisi selembar kain
hijau, serta si Komunis, Morris Krakower, seorang pria gemuk pendek berambut
cepak dan sepasang mata laksana baja di balik pince-nez[2]
berlensa tebal. Konferensi itu berlangsung di Warsawa pada tahun tiga puluhan,
pada era terjadinya teror oleh para pengikut Stalin dan Pengadilan Mokswa.
Morris Krakower menyembunyikan pembelaannya terhadap Stalin dalam jargon teori
Marxis, tapi semua orang dapat menangkap maksudnya. Dalam pidatonya, ia
menyatakan bahwa hanya kediktatoran proletariat yang dapat menjamin kedamaian,
dan, oleh karena itu, tidak ada penyelewengan baik ke kanan maupun ke kiri yang
boleh dibiarkan. Perdamaian dunia ada di tangan NKVD[3].
Selamat Datang
Blog ini dibuat untuk menjadi tempat berbagi proses belajar saya dalam penulisan karya kreatif sekalian pemahaman bahasa asing, yaitu dengan menerjemahkan. Hasil terjemahan dalam blog ini semata untuk kepentingan belajar dan tidak dikomersialkan. Terima kasih sudah berkunjung.
Pengarang/Penerjemah
Agus Kurniawan
(1)
Aimee Bender
(2)
Ajip Rosidi
(1)
Alan Gratz
(1)
Alberto Manguel
(1)
Alejandro Zambra
(1)
Alex Patterson
(1)
Alexa Firat
(1)
Alexandre Najjar
(1)
Alice Guthrie
(1)
Alice Walker
(1)
Aliza Shevrin
(1)
Ambika Rao
(1)
Ambrose Bierce
(1)
Amelia Gray
(1)
Amy Hempel
(1)
Anders Widmark
(2)
Andrea G. Labinger
(3)
Andrew Driver
(10)
Ángela Pradelli
(2)
Ann Beattie
(1)
Anna Sophie Gross
(1)
Anne McLean
(1)
Aoi Matsushima
(1)
Ariel Urquiza
(1)
Behnam Dayani
(3)
Bel Kaufman
(1)
Brandon Geist
(5)
Catherine Rose Torres
(1)
César Aira
(1)
Charlotte-Arrisoa Rafenomanjato
(1)
Chiba Mikio
(1)
Chikako Kobayashi
(1)
Chimamanda Ngozi Adichie
(1)
Chris Andrews
(1)
Christopher Moseley
(1)
Clark M. Zlotchew
(6)
Cynthia Ozick
(1)
David Herbert Lawrence
(2)
David Karashima
(1)
Dayeuh
(2)
Donald A. Yates
(1)
Dorothy Parker
(1)
Dorthe Nors
(1)
Ed Park
(1)
Elizabeth Harris
(1)
Estelle Gilson
(1)
Fernando Sorrentino
(15)
FiFadila
(1)
Fiona Barton
(1)
Francis Marion Crawford
(2)
Fumiko Enchi
(1)
Gabriel Gárcia Márquez
(1)
Giulio Mozzi
(1)
Grace Paley
(1)
Gregory Conti
(1)
Gregory Rabassa
(1)
Guillermo Fadanelli
(1)
Guillermo Martínez
(1)
Hari Kumar Nair
(1)
Haruki Murakami
(24)
Hector Hugh Munro (Saki)
(2)
Helena Maria Viramontes
(1)
Herbert Ernest Bates
(1)
Hitomi Yoshio
(1)
Ian MacDonald
(1)
Iris Maria Mielonen
(1)
Isaac Bashevis Singer
(1)
Italo Calvino
(1)
Jack Kerouac
(2)
Jacob dan Wilhelm Grimm
(1)
James Patterson
(1)
James Thurber
(5)
Jay Rubin
(13)
Jean Rhys
(1)
Joehana
(2)
John Cheever
(1)
John Clare
(1)
John Updike
(1)
Jonas Karlsson
(1)
Jonathan Safran Foer
(1)
Jonathan Wright
(1)
Jorge Luis Borges
(1)
Juan José Millás
(1)
Julia Sherwood
(1)
K. S. Sivakumaran
(1)
Kader Abdolah
(1)
Kalaivaathy Kaleel
(1)
Karunia Sylviany Sambas
(1)
Kate Chopin
(1)
Katherine Mansfield
(1)
Keiichiro Hirano
(5)
Kevin Canty
(1)
Khaled Hosseini
(1)
Khan Mohammad Sind
(1)
Kurahashi Yumiko
(1)
László Krasznahorkai
(1)
Laura Wyrick
(27)
Laurie Thompson
(1)
Laurie Wilson
(1)
Lawrence Venuti
(1)
Liliana Heker
(1)
Lindsey Akashi
(27)
Liza Dalby
(1)
Lorrie Moore
(5)
Louise George Kittaka
(1)
Lynne E. Riggs
(1)
Mahmud Marhun
(1)
Malika Moustadraf
(1)
Marek Vadas
(1)
Marina Harss
(1)
Mark Boyle
(32)
Mark Sundeen
(1)
Mark Twain
(2)
Marshall Karp
(1)
Martin Aitken
(1)
Massimo Bontempelli
(1)
Megan McDowell
(1)
Megumi Fujino
(1)
Mehis Heinsaar
(1)
Michael Emmerich
(1)
Michele Aynesworth
(3)
Mieko Kawakami
(1)
Mihkel Mutt
(1)
Mildred Hernández
(1)
Mitsuyo Kakuta
(1)
Morgan Giles
(1)
Na’am al-Baz
(1)
Nahid Mozaffari
(3)
Naoko Awa
(1)
Naomi Lindstrom
(1)
Norman Thomas di Giovanni
(1)
Novianita
(1)
Nur Laili M.
(2)
O. Henry
(1)
Ottilie Mulzet
(1)
Pamela Taylor
(1)
Paul Murray
(54)
Paul O'Neill
(1)
Pere Calders
(1)
Peter Matthiessen
(1)
Peter Sherwood
(1)
Philip Gabriel
(11)
Polly Barton
(1)
Ralph McCarthy
(4)
Ramona Ausubel
(1)
Ray Bradbury
(3)
Raymond Carver
(2)
Raymond Chandler
(2)
Rhett A. Butler
(1)
Robert Coover
(3)
Rokelle Lerner
(359)
Ruqayyah Kareem
(1)
Ryu Murakami
(4)
Ryuichiro Utsumi
(1)
S. Yumiko Hulvey
(1)
Sam Garrett
(1)
Sam Malissa
(1)
Samantha Schnee
(1)
Saud Alsanousi
(1)
Sebastiano Vassalli
(1)
Selina Hossain
(1)
Sergey Terentyevich Semyonov
(1)
Shabnam Nadiya
(1)
Sherwood Anderson
(1)
Shirin Nezammafi
(1)
Shun Medoruma
(1)
Soekria
(2)
Sophie Lewis
(1)
Stephen Chbosky
(10)
Stephen Leacock
(1)
Susan Wilson
(1)
Suzumo Sakurai
(1)
Tatsuhiko Takimoto
(27)
Thomas C. Meehan
(2)
Tobias Hecht
(1)
Tobias Wolff
(1)
Tomi Astikainen
(40)
Toni Morisson
(1)
Toshiya Kamei
(2)
Ursula K. Le Guin
(1)
Vina Maria Agustina
(2)
Virginia Woolf
(1)
W. H. Hudson
(1)
Wahyu Wibisana
(3)
Wajahat Ali
(1)
Widya Suwarna
(1)
William Saroyan
(1)
William Somerset Maugham
(1)
Yasutaka Tsutsui
(10)
Yu Miri
(1)
20170513
20170506
An Evening of Long Goodbyes, Bab 7 (2/2) (Paul Murray, 2003)
Apartemen Frank merupakan bagian dari
bangunan tinggi berbata merah—dari era Georgia[1], menurut
penampakan jendela berbentuk busur di atas pintu—yang dulu mestilah pernah
menjadi rumah bandar terhormat, bahkan dimuliakan. Di mana-mana terdapat jejak
masa lalu yang lebih mulia lagi, berupa fragmen-fragmen ukiran halus dari karya
plester asli. Namun fragmen ukiran itu tidak lebih daripada sekadar jejak, bak
potongan tembikar di lumpur. Bagian depan bangunan telah menghitam dan rusak
akibat debu puluhan tahun, dan sebagian besar perabotnya yang asli pecah
sewaktu bagian dalamnya dibagi menjadi rumah-rumah petak yang teramat kecil.
Induk semangnya kini mantan Garda[2] yang memiliki
beberapa properti di kawasan itu dan, menurut Frank, “bajingan biar Garda
juga”.
Hampir seluruh bagian dari
Apt C berupa pojok, seakan-akan siapa pun yang membangun tempat itu menambal
ruang tambahan dari sudut dan ceruk yang tersisa. Ruangan-ruangannya bergoyang
secara tidak lazim, dan dinding tertentu tidak bisa disandari karena, begini
yang kukutip, “menyangga langit-langit”. Bahkan cahaya matahari pun agaknya
sulit mengatasi kenyentrikan flat tersebut. Bisa dibilang, cahaya datang
melalui jendela, dan seketika terhenti, sambil menautkan jari ke bibir.
Akibatnya di dalam selalu agak gelap—atau lembap,
mungkin lembap kata yang lebih tepat.
Tidak ayal lagi inilah apartemen terlembap yang pernah kutinggali.
20170427
An Evening of Long Goodbyes, Bab 7 (1/2) (Paul Murray, 2003)
“Kamu benar-benar sangat baik sekali.”
“Enggak usah sungkan-sungkan, Charlie.”
“Maksudku, ini cuma untuk sekitar seminggu, sampai aku
berhasil menyelesaikan problemku ….”
“Sudah sampai, Charlie.”
“Aha, iya.” Kami berhenti di sebelah luar pintu kayu putih
polos. Gugup aku bersenandung sendiri sementara Frank merogoh-rogoh mencari
kunci.
“Silakan,” ucap Frank. “Yang tua duluan.”
“Ha ha, terima kasih,” seraya berjalan perlahan-lahan
memasuki kegelapan. “Oh. Yah. Bukankah ini …?”
“Ini rada berantakan. Aku belum sempat beres-beres.”
“Enggak kok, enggak, ini sangat—oh ya ampun, rupanya aku
menginjak, ah, makan malam seseorang ….”
“Enggak usah khawatir, Charlie, aku enggak bakal makan itu
lagi kok.”
20170420
Bangau (Dorthe Nors, 2008)
Aku tidak suka memberi makan burung, tapi
kalau bagimu itu wajib, sebaiknya kau melakukannya di Taman Frederiksberg. Di
sana ada bangau-bangau yang jinak, dan dengan menata bangku-bangku taman pada
jarak tertentu antar satu sama lain, pengelola taman berharap dapat
menghindarkan datangnya terlalu banyak burung sekaligus ke satu area. Ada
beberapa masalah di ujung taman yang merupakan tempat berkumpulnya para
alkoholik, terlebih lagi dengan adanya bebek-bebek, tapi aku tidak pernah ke
sebelah sana, sementara bangaunya bisa kau lihat di mana-mana. Tentang
bangaunya sendiri, bisa dibilang hanya dari kejauhan saja binatang itu terlihat
menarik, tapi ternyata tidak seperti itu jadinya begitu didekati. Bangaunya
terlalu kurus, dan terlebih lagi yang jinak-jinak tampaknya kekurangan gizi.
Kemungkinan besar roti yang diberikan pada bangau-bangau di Taman Frederiksberg
itu membuat sakit perut sehingga akibatnya mereka tidak kuat terbang. Pada
musim dingin yang lalu aku melihat ada salah seekor yang sedang membungkuk di
balik sebuah bangku. Lehernya panjang dan kurus. Kakinya putih dan hampir tidak
bereaksi sedikitpun sewaktu aku lewat. Cara angin mengibarkan bulu-bulu di
lehernya membuatku ingin kembali dan duduk di sampingnya. Begitulah cara
penderitaan ditarik-ulur berlarut-larut, cara yang membuat bangau-bangau itu
tidak pernah benar-benar mengerahkan gairah. Tapi aku tidak akan menyentuh
burung, hidup ataupun mati. Sebaiknya kita tidak bermain-main dengannya, dan
kalau kau mau bermain-main dengannya, kau sebaiknya berhati-hati supaya tidak
menyentuh orang dengan tanganmu yang telah terinfeksi. Kalau ada burung yang
mati kau harus memastikan supaya tidak bersentuhan baik dengan binatang itu
ataupun dengan kotorannya. Gunakan sarung tangan sekali pakai, dan burungnya
harus diambil dengan kantong plastik, seperti memungut kotoran anjing. Kantong
itu harus disegel dan dibuang bersama sampah rumah tangga kalau tidak dikubur.
Seberapa sulitnyakah itu, dengan segala pengetahuan yang telah kita peroleh?
20170413
An Evening of Long Goodbyes, Bab 6 (4/4) (Paul Murray, 2003)
Inilah dia. Inilah rasa
terima kasih yang kuterima karena berusaha menyelamatkan serpihan martabat
keluarga. Nasibku telah diputuskan sementara aku terbaring koma di ranjang
rumah sakit. Kerja! Dinding-dinding ruang resital menyerbuku. Kerja!
Tentu saja aku menentang. Aku
menyoroti betapa ironisnya menyuruhku, darah dagingnya sendiri, pergi bekerja
di pabrik stoples sementara ia mengundang gerombolan aktor pengangguran agar
tinggal di sini tanpa berbuat apa-apa. Aku menuding Bel yang tidak disuruh
mencari kerja, padahal dialah yang selalu cerewet soal betapa bencinya ia pada
tempat ini dan betapa inginnya ia bergesekkan bahu dengan rakyat jelata.
Kupungkas dengan pidato menghasut yang intinya Bunda sedang menyuruhku
menggantang asap, sebab sekalipun ia telah mengakui bahwa aku sama sekali tidak
punya mimpi maupun ambisi, maka menempatkanku di dunia kerja hanya akan
membuang waktu berharga milik orang lain. Bunda mendengarkan dengan raut
dingin, seakan-akan perkataanku justru seperti yang telah diperkirakannya.
20170406
An Evening of Long Goodbyes, Bab 6 (3/4) (Paul Murray, 2003)
Seseorang mendorong pintu ruangan dansa
hingga terbuka. “Nah, ketemu juga. Kamu enggak menungguku.”
“Oh—kukira kamu enggak
benar-benar memintaku menunggumu ….”
“Udaranya dingin sekali, ya.” Mirela
menggosok-gosokkan kedua tangan pada lengannya yang telanjang. “Kamu sedang apa
di sini? Kamu melewatkan pestanya.”
“Ah, tahulah … cuma merasa
butuh udara segar.”
“Kamu dicari ibumu.”
“Aku tahu,” sahutku muram.
Ia duduk di sisi seberang
lorong. “Kamu baik-baik saja? Kepalamu sakit?”
“Enggak, enggak ….”
Kusilangkan kedua kakiku ke arahnya, sepertinya tampak kecewek-cewekkan, lantas
kembali kusilangkan. “Kurasa cuma karena ini pertama kalinya aku menyaksikan
semua telah dibereskan. Aku jadi masygul.”
20170327
An Evening of Long Goodbyes, Bab 6 (2/4) (Paul Murray, 2003)
Aku gelagapan saat bangun dari koma,
seperti komuter yang terjaga dalam perjalanan pulang naik kereta. Di sampingku
Bel sedang menekuri buku. Aku berdeham sopan.
“Charles!” Ia meletakkan
bukunya sambil menjerit. “Oh ya ampun!” Ia melonjak dan mencondongkan badan
padaku, seraya mengamati mataku. “Kamu mengenaliku? Ada berapa jari yang
kuangkat? Bisakah kamu mengerti yang kukatakan? Mengediplah kalau kamu mengerti.”
“Tentu saja aku mengerti,”
sahutku. “Berhentilah menjerit-jerit. Aku baik-baik saja kok.”
Sikapnya terasa berlebihan,
sementara setiap detiknya satu per satu anggota tubuhku terasa bangkit dan
merengek kesakitan. Sepelan mungkin aku menoleh dan memandang sekelilingku.
Kami berada di ruangan sempit dengan dinding berwarna hijau kapri serta gorden
jelek bercorak papan permainan dam menutupi jendela. Berbagai peralatan disusun
di sekelilingku, memetakan keadaanku lewat layar serta cakra angka yang sulit
dimengerti. Infus di lenganku menyalurkan tetesan dari botol di samping tempat
tidur. Tepat di seberangku ada poster bergambar kilauan sinar matahari menembus
pepohonan dengan tulisan di bawahnya Hari
ini awal sisa hidup Anda. Entah mengapa aku jadi merinding.
20170320
An Evening of Long Goodbyes, Bab 6 (1/4) (Paul Murray, 2003)
“Kau! Kau!
Kau!” Bel menghantam-hantam lantai pentas. Gelang-gelas emas bergemerincing di
bawah lengannya. “Kaulah yang membuatku kecanduan putauw!”
“Aku?”
ujar Mirela sangsi, seraya bangkit dari meja. “Bagaimana mungkin diriku?”
“Tidakkah
kau mengerti?” Bel merengek. “Kecanduanku itu jeritan memohon pertolongan.
Heroin menggantikan cinta yang kau, maupun masyarakat yang lebih luas, tidak
berikan padaku.”
Mirela
menjangkau punggung kursi untuk menopang diri. Gaun panjangnya menyapu lantai. “Bagaimana
bisa kau mengatakan aku tidak mencintaimu?” ujarnya perlahan-lahan. “Bukankah
aku yang memberimu makan dan pakaian selama ini? Bukankah aku yang menabung
supaya kau bisa selalu membeli buku untuk sekolah?”
“Ma,
kau masih tidak mengerti,” sahut Bel. “Kau tidak ubahnya pemerintah, tidak
mengerti generasi yang lebih muda. Kami butuh lebih dari sekadar klinik metadon[1]
dan rencana untuk kembali ke dunia kerja. Kami butuh menghormati diri kami
sebagai manusia yang sesungguhnya, selayaknya orang-orang lainnya. Ya, kau
telah berbuat segalanya untukku. Tetapi kau tidak pernah sanggup memberi kami
tiga kata sederhana yang merupakan hal terpenting bagi setiap anak.”
Langganan:
Postingan (Atom)