Selamat Datang
Blog ini dibuat untuk menjadi tempat berbagi proses belajar saya dalam penulisan karya kreatif sekalian pemahaman bahasa asing, yaitu dengan menerjemahkan. Hasil terjemahan dalam blog ini semata untuk kepentingan belajar dan tidak dikomersialkan. Terima kasih sudah berkunjung.
Pengarang/Penerjemah
20260820
Juru Mandi (1/2) (Ángela Pradelli, 2011)
20260806
Rasiah Nu Goreng Patut (3 - 4) (Soekria/Joehana, 1927)
Tersebutlah Nyi Usni di
rumahnya sebentar-sebentar turun naik ke rumah seperti ayam sedang bertelur,
lantaran khawatir sudah begitu lama Karnadi belum datang saja. Apalagi Si Arba,
anak kedua dari bawah, mendadak sakit. Badannya panas meruap. Tidurnya
tergeletak di lantai rumah panggung itu, bersandarkan bantal tipis lantaran
terlalu sering dipakai atau sedikit kapuknya, lagi kotor, sama sekali tanpa
selimut.
“Emak!” ucap Si Arba menahan
tangis. “Bapa sudah datang?”
“Belum, Ujang, kan sedang
mencari rezeki, berjuang untuk Emak, Ujang, dan saudara-saudaramu,” sahut Nyi
Usni dan duduklah ia di pinggir Si Arba sembari menyusui bungsunya yang
digendong.
Tidak sampai lama datanglah
anak yang sulung habis bermain, berjalan timpang sembari menangis keras.
Telapak kakinya mengeluarkan darah.
“Aduh, Emak, kakiku tertusuk beling!”
20260720
Rasiah Nu Goreng Patut (1 - 2) (Soekria/Joehana, 1927)
Pada suatu pagi, gunung-gunung di sekeliling Kota Bandung tampak diselimuti kabut hingga keputih-putihan, sungguh membuat haru, membangkitkan perasaan permai penduduk desa yang sedang bertani, pertanda akan musim hujan.
Esoknya kebetulan Jumat.
Sinar mentari meredup suram, bagai kalah nyali oleh mega yang digdaya sakti
tiada tara.
Makin lama mega makin mendung
hingga membentang hitam. Bianglala yang sedang turun ke lubuk bagaikan sutra
merah kekuningan. Kata orang bohong, itu tangga bidadari yang sedang mandi. Tak
sampai lama, hujan angin begitu lebat. Halilintar menyambar-nyambar. Makin lama
hujan makin besar, seakan-akan hendak menumpahkan air dari langit.
Tukang tani bersukacita lantaran setelah musim kemarau yang begitu mengkhawatirkan panas teriknya, sekarang turun hujan teramat lebatnya. Terlebih Jumat katanya memang banyak turun hujan. Akibatnya yang bersawah merasa tenteram, yang bertani jadi kaya.
20260706
RASIAH NU GORENG PATUT KARYA JOEHANA (Ajip Rosidi, 1983)
Karya sastra berbahasa Sunda umumnya hanya dibaca dan dikenal oleh orang Sunda saja, dan selainnya yang bisa berbahasa Sunda. Ada pula yang melampaui lingkungan orang Sunda, hanya tidak seberapa. Yang lumrah adalah dengan menyalinnya ke bahasa lain (bahasa daerah atau bahasa Indonesia). Umpama Wawacan Panji Wulung karya H. Muhammad Musa (1822 – 1886) disalin ke bahasa Jawa oleh Mangkunegara IV lalu disalin ke bahasa Madura; Pangeran Kornel Memed Sastrahadiprawira (1897 – 1932) disalin oleh Abdul Muis ke bahasa Melayu (Indonesia). Bagaimana tanggapan pembacanya (dalam bahasa Jawa, Madura, dan Indonesia), wallahualam.
Yang istimewa adalah karangan Joehana (= Yuhana, sandi asma Ahmad Bassach, meninggal 1930). Karyanya menyebar menyeberangi tapal batas kesundaan tanpa disalin terlebih dahulu ke bahasa lain. Atau tanpa disalin sebagai karya sastra. Media dunia modern, film, jadi titian untuk menyebarnya beberapa karangan Joehana menyeberangi tapal batas kesundaan. Di antaranya yang sampai difilmkan adalah Carios Eulis Acih (1926) dan Rasiah nu Goreng Patut (1927). Walaupun saya tidak sampai menyaksikan filmnya, hanya demikianlah hasil studi Tim Peneliti mengenai Yuhana Sastrawan Sunda (1979: 5-6). Tidak ada keterangan mengenai percakapan dalam film tersebut apakah menggunakan bahasa Sunda atau bahasa Melayu.
20260620
Jagoan Cilik
Teng
… teng … teng … jam bandul yang ada di kamar
tengah telah berbunyi tujuh kali, tandanya sudah jam tujuh malam. Bapak dan Ibu
sudah bersiap-siap akan pergi ke resepsi.
“Agam,
cepat selesaikan PR-mu lalu tidur, ya,” Ibu memperingati Agam.
“Siap,
Komandan!” jawab Agam menirukan pak polisi bila menjawab perintah komandannya.
“Yu,
jangan lupa kunci pintu gerbang,” Bapak memperingati Yu Watik.
Setelah
Bapak dan Ibu pergi, Yu Watik cepat-cepat menutup pagar dan mengunci gerbang
depan. Yu Watik lalu ke ruang tengah menyetel TV.
TV
menyala. Yu Watik lalu duduk di karpet. Ceklik … ceklik, Yu Wati memijat remote
control mencari stasiun TV yang
memutar acara kesenangannya.
“Asyik … film hantu.” Yu Watik senang sekali lalu mengambil bantal yang ada di atas sofa. Bantal didekapnya erat untuk berjaga-jaga bila hantunya keluar.
20260606
Bi Empat (Wahyu Wibisana, 1956) (2/2)
Pa
Camat mengangguk-angguk sambil mengusap-usap kumisnya. Pa Lurah, memelototi Bah
Emuh, berkata: “Betul! Abah sudah memenangkan urusan ini, tapi Abah bisanya
berkata-kata saja. Itu saya mengerti, karena Abah memang ahlinya. Tapi, di
samping itu, Abah tidak membaca perasaan yang Abah juga tentu mempunyai ….”
Abah
Emuh yang mengenakan ikat kepala itu agak melotot. Hidungnya merah seperti
tomat masak karena kepanasan. Jawabnya gigih: “Ah, Pa Lurah suka begitu. Kalau
begini kan mengubah putusan yang tadi? Soal rasa memang adakalanya harus
dibuang, kalau kebenaran lebih penting daripada rasa.”
Pa Lurah melotot lagi. Sembari merogoh handuk kecil “good morning” dari saku celananya, lalu dipakai mengelap keringatnya, ia menambahkan tak kurang lincahnya dari perkataan Abah Emuh tadi: “Manusia yang tak punya rasa, miskin hidupnya. Di antaranya Abah (sembari menunjuk ke dada Bah Emuh seperti akan memistol) tandas sekali menyatakan, bahwa rasa harus dibuang pada urusan ini.”
20260520
Bi Empat (Wahyu Wibisana, 1956) (1/2)
Kepada ibuku di gunung, yang dahulu sempat tak boleh disebut ibu.
Siang
sedang terang-terangnya. Jalan Ciawang—Singaparna yang tak rata karena batu di sisi-sisinya, diteduhi pepohonan.
Selang-selang sawah yang akan dipaculi, dipanen, disiangi, terlewati,
pemandangan yang menggambarkan “eloknya” rupa desa. Dahulu, sekarang, sama
saja. Hanya saja sudah lain yang memeliharanya. Dan tentu makin melebar,
menandakan bahwa zaman tak bisa beristirahat. Terus berjalan.
Dahulu
jalan itu kerap ditengok para menak dari kota. Setiap orang yang dilewati pada
berjongkok sembari berulang-ulang menyembah, takutnya lebih daripada ke
malaikat maut. Juragan opsiner sengaja datang tanpa pemberitahuan. Datang ke
sekolah desa, juragan guru kedapatan lagi mengantuk, malah sampai mendengkur.
Tapi anak-anak pada diam, lantaran “berabe” jika juragan guru marah.
Setelah itu tiba zaman Jepang. Suara kentungan sekali dua kali dan tiga kali atau berkali-kali, sempat menjadi refleks badan warga desa, berlarian ke dalam lubang persembunyian atau keluar sembari bersorak, kalau dunia belum lebur kiamat oleh bom yang telah menakuti mereka.
20260506
The Moneyless Manifesto: Tenaga Kerja (2/2) (Mark Boyle, 2012)
Local Exchange Trading Schemes (LETS/Skema Niaga Pertukaran Lokal) dan Timebanks
(Bank Waktu)
Menambahkan
kedua skema ini ke buku mengenai hidup tanpa uang sudah sewajarnya
dipertanyakan, tetapi, sebagaimana yang telah saya sebutkan di bab dua, cara ini dapat menjadi batu loncatan bagi siapa saja
yang saat ini masih terbelit dalam ekonomi moneter, memungkinkan mereka untuk
nantinya membuka jalan ke ekonomi kasih jika mereka menghendakinya.
LETS adalah jaringan orang-orang yang bersepakat menggunakan mata uang lokal (contohnya paun LETS) untuk berbagi keterampilan mereka. Para anggotanya menciptakan dan menukarkan kredit yang mana, seperti dikemukakan oleh Peter North[1], “mereka sokong dengan komitmen untuk melakukan cukup pekerjaan untuk membayar ‘komitmen’ ini (bukan ‘utang’) dalam waktu yang sepatutnya di masa depan … kita tidak memerlukan uang lokal sebelum memulai—kita hanya membuat komitmen kerja untuk orang lain yang meminta kita nantinya.” Sedikit menyerupai Freeconomy, tetapi tanpa semangat tanpa pamrih yang hanya sungguh-sungguh diciptakan oleh ekonomi kasih, juga tanpa ikatan kesalingbergantungan yang hanya dapat secara efisien dirusak oleh uang serta perkreditan langsung-dan-tepat (immediate-and-exact crediting).
20260420
The Moneyless Manifesto: Tenaga Kerja (1/2) (Mark Boyle, 2012)
Mengingat
sistem politik dan ekonomi yang kita jalani, berikut dongengan bahwa masyarakat
sedemikianlah yang telah menyuapi kita sejak lahir, mudah untuk meyakini bahwa
satu-satunya cara agar kita dapat mengelola tenaga kerja dalam perekonomian ini
adalah dengan uang.
Sebagaimana dengan segala hal, sesungguhnya tidaklah mesti seperti ini. Itu hanyalah sebuah kisahan, satu di antara sekian, yang mana dapat kita ubah jika tidak lagi bermanfaat bagi kita. Cara hidup kita yang sekarang secara teoretis boleh jadi nyaman, tetapi jika kenyamanan itu ternyata merusak jiwa, masih bisakah disebut nyaman? Perekonomian modern tidak memberikan banyak manfaat bagi jiwa manusia; akibatnya banyak dari kita yang sengsara dan membenci pekerjaan kita sehari-hari. Berlawanan dengan keyakinan para pendukung uang yang paling antusias, uang sesungguhnya menghambat rasa kebebasan kita, dan melalui cara kerjanya menghentikan kita dari mengejar hal-hal yang benar-benar kita ingin lakukan dalam hidup. Amerika Serikat, negara yang memproklamasikan diri sebagai induk kebebasan, secara hukum tidak mewajibkan pemberi kerja agar memberikan cuti berbayar, dan hampir satu dari empat pekerja tidak mendapatkan cuti berbayar sama sekali.[1]
20260406
Artis Kampung (Nur Laili M., 2011)
Sudah sebulan ini keluargaku pindah ke Perumahan
Griya Asri. Seperti perumahan-perumahan lainnya, banyak rumah yang bentuknya
sama serta pepohonan yang belum besar ditanam di pinggir jalan. Jadi, bila
siang masih terasa panas.
Di perumahan itu hanya ada satu pohon yang besar,
yaitu pohon asem yang ada di sebelah kiri pos kamling depan perumahan. Pohon
asem tadi sudah ada sebelum perumahan dibangun, dan sengaja tidak dipangkas.
Karena adanya pohon asem itu, pos kamling kelihatan teduh dan enak untuk
duduk-duduk.
Aku dan adikku masih bersekolah di SD. Aku kelas
lima, adikku, Wati, kelas satu. Berbarengan dengan pindah rumah, sekolahku juga
pindah. Sekarang aku bersekolah di SD Teladan 2. Kebetulan sekolah tersebut ada
di seberang Perumahan Griya Asri. Jadi, kalau pergi dan pulang sekolah, aku dan
adikku cukup berjalan kaki saja.
Hari pertama berangkat sekolah lewat pos kamling, aku kaget sekali. Di lincak (bangku panjang dari bambu) pos kamling ada seorang lelaki yang aneh sedang duduk. Perawakannya ceking tinggi, rambut jabrik disemir kuning seperti rambut bule, celana jin usang hingga sudah pudar warnanya, sepatu bot hitam, kaus oblong putih penuh tulisan, jaket kulit, dan tangan kiri-kanan mengenakan gelang kulit berbesi lancip-lancip. Gayanya persis penyanyi rok.
20260320
Buruk untuk Jantung (3/3) (Yasutaka Tsutsui, 1979)
“Kalau sudah tahu begitu,
kenapa kamu pakai mereka?”
“Oh, yang benar saja. Siapa
lagi yang bisa mengantarkan koper remeh-temeh ke tempat antah-berantah?”
ujarnya diiringi senyum mengejek.
“Mereka memonopoli?”
“Benar.”
“Berengsek!” Kuhantamkan
bogemku ke meja. Jantungku segera saja mulai berdebar. Cepat-cepat aku
mengeluarkan botol obat dan menenggak dua tablet. Sekarang yang tersisa tinggal
tiga.
Beberapa saat, istriku tampak
melamun. Lantas ia memandang kepadaku. “Mungkin saja mereka sengaja menunda
koper itu, untuk balas dendam.”
“Ke—kenapa?” kutatap ia. “Apa
yang kamu rahasiakan?”
Ia menjawab dengan ekspresi serius, seakan-akan mau menyulut kecemasanku.“Yah, aku ada sedikit seteru sama sopir Daitsu. Ia datang sendirian untuk menjemput koper itu, dan memintaku membantunya mengangkat barang itu. Aku bilang salahnya sendiri tidak bawa teman, angkat saja sendiri, itu kan sudah tugas dia. Lantas ia memandangku dengan jahat sekali.”
20260306
Buruk untuk Jantung (2/3) (Yasutaka Tsutsui, 1979)
“Tapi istri saya suka bikin
saya marah. Saya tidak tahan.”
“Apa istri Anda akan menemani
ke pulau?”
“Tentu.”
“Nah, ini kesempatan sempurna
untuk pemulihan kesehatan secara penuh.” Ia mengerutkan wajah. “Apa tidak
mungkin Anda pergi sendirian?”
“Bercanda, ya! Mana mungkin
saya tinggalkan wanita perisau macam itu sendirian. Entah apa yang bakal dia
perbuat.”
“Saling tidak percaya dengan
pasangan, curiga akan berbuat serong, hal-hal beginilah yang dapat secara
langsung memperburuk kondisi Anda.”
Aku jadi kalut. “Apa maksud Anda saya cemburu?” kataku keras-keras. “Bagaimana tidak? Ia wanita yang tak senonoh, asal tahu saja ya!”
20260220
Buruk untuk Jantung (1/3) (Yasutaka Tsutsui, 1979)
Firasatku ternyata benar.
Seperti yang sudah kuduga,
firasat itu memberitahuku akan adanya “dinas pulau” sampai-sampai Manajer
Departemen tergesa memanggilku ke Ruang Rapat.
Biasanya, “dinas pulau”
diberikan kepada peneliti yang belum kawin. Sedangkan aku punya istri dan
seorang anak berumur tiga tahun.
Mengapa pula mesti Manajer
Departemen sendiri yang memberitahuku. Karena Kepala Bagian tidak bisa. Inilah
gelagat dari kebencian Kepala Bagian kepadaku. Dia lah orangnya yang merancang “dinas
pulau” ini. Aku yakin itu.
Aku akan ditempatkan di Pulau
Delima, sebuah pulau kecil di tengah-tengah Laut Jepang. Jaraknya kira-kira 30
meter dari pesisir yang paling terpencil di Prefektur Shimane.
“Apa ada telepon di pulau itu?” tanyaku kepada Manajer Departemen sembari memindai petanya.
20260206
Hitchcock dan Agha Baji (3/3) (Behnam Dayani, 1973)
Lampu-lampu menyala. Aku mengambil napas dalam-dalam dan bangkit. Aku meletakkan tanganku di bahunya dan memanggil namanya. Ia menggerak-gerakkan kepalanya beberapa kali, seakan-akan bicara sendiri. Aku secara sopan menerangkan bahwa filmnya sudah selesai dan kami harus pergi. Ia menghela diri ke arah depan tempat duduknya sedikit. Ia menurunkan kaki lalu bangkit. Secara keseluruhan, ia tampak lelah dan letih, tetapi matanya bersinar. Ketika kami keluar bioskop dari jalan samping, ia menutupi wajahnya dengan tangan sehingga cahaya yang cerah tak menyilaukannya. Lalu ia celingukan beberapa kali, seakan-akan lupa kami ada di mana. Hari itu termasuk hari kala matahari bersinar dan segalanya tampak meluap-luap oleh semangat. Bertiup angin sepoi yang sejuk menyenangkan. Siswa-siswi dari sekolah-sekolah Hadaf[1] melewati kami. Burung gereja berciap dan berkicau sambil bermain-main di atara cabang-cabang pepohonan. Aku mendadak diliputi perasaan yang teramat riang. Aku merangkul bahu Agha Baji dan dengan gembira bertanya, “Nah, Agha Baji, suka filmnya?”
20260120
Hitchcock dan Agha Baji (2/3) (Behnam Dayani, 1973)
Namun sikap Agha Baji seketika berubah. Tatapannya membuatku merasa goyah.
Aku merasa ia mau memburaikan isi perutku. Tanpa bangkit dari lantai, ia
menggeser kakinya ke arahku seperti belalang lalu duduk di sampingku. Ia memintaku untuk
menceritainya keseluruhan film itu. Aku pun membeberkan cerita itu, tidak dari
A ke Z, tapi ringkasannya saja. Terpukau, ia memancangkan tatapannya pada mulutku
tanpa berkedip. Ketika ceritanya selesai, nenekku memberi kami masing-masing
secangkir teh. Ruangan pun anehnya hening. Agha Baji tampak menarik diri
sementara tatapannya terpaku pada motif bunga di karpet. Aku tak berani berkata
apa pun lagi. Aku takut ia berubah jadi wanita tua di film Psycho itu
lagi. Memecah keheningan, nenekku batuk-batuk lalu bertanya diiringi tawa,
“Jadi siapa operator film itu?”
Nenek telah mengetahui dari aku bahwa setiap film ada sutradaranya. Namun, seperti “bisoskop”, ia mengacaukan kata ini juga, dan selalu menyebutnya “operator” alih-alih sutradara. Sebelum aku menjawab Nenek, aku melirik Agha Baji, dan bibirnya bergetar. Ia menangis diam-diam. Bingung, aku memandang nenekku meminta penjelasan. Ia memberikan isyarat dengan alisnya, menyuruhku keluar ruangan. Aku pun bangkit dan kembali mempelajari Fisika Mekanika.
20260106
Hitchcock dan Agha Baji (1/3) (Behnam Dayani, 1973)
Kisah pendewasaan yang didedikasikan untuk para nenek ini menyoroti
pembicaraan subversif dan kecintaan pada film.
Kepada nenekku, dan semua nenek lain yang tak pernah kita hargai
sepantasnya.
Pada Kamis sore di musim gugur yang cerah itu, antara pukul dua dan tujuh,
terjadi tiga peristiwa tak biasa. Dari pukul tiga sampai lima, aku dan
teman-temanku pergi ke Bioskop Mahtab untuk menonton film Hitchcock, Psycho.
Pada pukul setengah tujuh, Agha Baji mampir ke rumah kami untuk mengunjungi
nenekku. Lima belas menit kemudian, lantai ubin di kamar mandi runtuh dan aku nyaris
jatuh menerobos ke lubang galian di bawahnya. Tampaknya, ketiga peristiwa remeh ini tidak ada hubungannya
dengan satu sama lain. Namun di balik keremehan itu, terdapat sejumlah
keruwetan.
Pada sore hari itu, ada dua jam mata pelajaran bahasa. Kami sedang duduk di ruang kelas, suasananya diliputi konspirasi dan intrik. Kami mau memberontak melawan guru kami. Namun luar biasanya yang memprakarsai pemberontakan kami itu sesungguhnya kepala sekolah. Ia mau mendepak Pak Chabok. Pak Chabok, guru bahasa kami, mestilah pegawai honorer, itulah sebabnya bisa saja memecat dia dengan mudah. Ia mahasiswa berpostur kekar. Wajahnya tirus dan rahangnya menonjol. Ia selalu menggemeretakkan gigi.
20251206
Becak (Wahyu Wibisana, 1955)
Baiklah, baiklah, sekarang
kukisahkan pengalamanku. Tentu saja, bukan dari masa yang kuingat sampai
sekarang, sebab riwayat semasa bayi bukanlah riwayatku, melainkan riwayat
ibu-bapakku. Begitu pula dengan cerita yang telah berlalu, bagiku adalah cerita
orang lain, walaupun orang itu adalah aku sendiri. Berbelit-belit perkataan
ini, tapi jangan heran, karena ceritanya juga berbelit-belit. Aku yang dulu
bukanlah aku yang sekarang, sehingga pantaslah bila cerita yang sudah dialami
olehku dulu itu disebut sebagai cerita orang lain.
Pembaca tentu minta bukti.
Memang, sekarang zamannya bukti. Ya, baiklah!
Dahulu aku disebut “Aden”, yaitu kependekan dari Raden. Kata ibuku, raden berasal dari kata “rahadiyan[1]”,
tapi mohon maaf lupa lagi artinya. Tapi sekarang aku disebut “Emang” atau
paling untung disebut “Bung”.
Tiga tahun lalu aku masih dianggap keluarga oleh Raden Rojak, pamanku, wedana di Leuwisari. Tapi sekarang kenal pun tidak. Ini menandakan bahwa aku yang dulu bukanlah aku yang sekarang.
20251106
Piercing Bab 2 (Ryu Murakami, 1994)
2
Kawashima
menyimpan alat pemecah es itu di laci dapur, membasuh mukanya di wastafel kamar
mandi, dan melangkah ke ruang keluarga. Ia duduk di meja kerja dan sia-sia saja
menunggu detak jantungnya melambat. Tenggorokannya kering saking tegangnya, dan
ia terpikir untuk mengambil minuman tetapi segera menyangkal pikiran itu. Pada
waktu-waktu seperti ini, ia berpantang minuman keras, karena tahu pada akhirnya
ia akan mencampakkan sabuk punggung pada suatu benda keras—cara yang
membantunya relaks hanya sekejap, setelah sebelumnya kehilangan kendali. Ia
akan minum sampai pingsan, dan hampir-hampir tak mengingat apa-apa hari
berikutnya.
Ia memandang seputar ruangan itu, mencoba bernapas dalam-dalam dan pelan-pelan. Mereka masih menyebut ruangan itu sebagai ruang keluarga padahal telah mengubahnya jadi ruang kerja untuk mereka berdua. Tidak ada sofa atau kursi yang nyaman, tetapi meja berat berbentuk L dari kayu tanpa pelitur yang memakan sebagian besar area lantai. Raksasa ini, yang diimpor dari Swedia dan cukup besar untuk menampung delapan sampai sepuluh murid sekaligus untuk mengadon, merupakan barang milik Yoko yang paling berharga. Barang itu hadiah pernikahan Kawashima untuk Yoko. Kawashima menguras rekening banknya untuk membayar barang itu.
20251006
Piercing Bab 1 (Ryu Murakami, 1994)
1
Seonggok makhluk hidup kecil tertidur di ranjang. Seperti hewan laboratorium di kandang, pikir Kawashima Masayuki. Ia menggunakan telapak tangan untuk menaungi senter seukuran pulpennya supaya yang diterangi hanya sosok bayi itu, sehingga ruang tidur itu selebihnya gelap gulita. Seraya mencondongkan badannya lebih dekat, mulutnya tanpa suara mengatakan Yang pulas. Seiring dengan majunya kehamilan Yoko dan kenyataan bahwa Kawashima sungguh-sungguh akan menjadi ayah mulai meresap, ia khawatir bayi itu akan mengalami kesulitan tidur. Kawashima menderita insomnia sejak SD, dan, lagi pula, darahnya akan mengalir di pembuluh anak ini. Ia dengar normal bagi anak baru lahir untuk tidur hampir sepanjang waktu; malah, ia merasa ingat ada ahli pengasuhan anak yang mengatakan tidur itu “pekerjaan” orok. Maka, adakah yang lebih tragis daripada bayi yang mengalami insomnia?
20250906
The Moneyless Manifesto: 5. Tenaga kerja dan material (Mark Boyle, 2012)
– Derrick Jensen, Endgame Volume I[1]
Saya percaya, siapa pun yang menyatakan ingin melepaskan dunia material untuk menjalani “kehidupan spiritual” itu teperdaya (dengan cara yang sebaik mungkin) pada dua front. Pertama, dunia material itu ibarat kertas lakmus bagi spiritualitas kita, itu kesempatan untuk menguji bahwa kepercayaan spiritual kita bukan sekadar pemikiran abstrak serta perkataan tanpa substansi. Spiritualitas bukanlah untuk berfilsafat ria belaka. Bukan tentang duduk dengan kaki menyilang dalam posisi teratai menggumamkan OM. Membacakan bagian-bagian dari Qur’an, Injil, atau Bhagawadgita secara verbatim pun tidak serta-merta menandakan kehidupan spiritual, begitu pula dengan pergi ke gereja pada Minggu pagi ataupun menyembah matahari. Laku-laku demikian dengan sendirinya memiliki potensi membantu kita menjalani kehidupan yang lebih terhubung, penuh cinta, berempati, berbelas kasih, dan bermartabat—yang saya percaya merupakan peran dalam kisahan mana pun yang kita pilih—tetapi laku-laku tersebut dengan sendirinya boleh jadi kurang spiritual dibandingkan dengan mengeluarkan kotoran yang bagus di toilet kompos